“Waste Management 2.0, What’s Next ?”

“Waste Management 2.0, What’s Next ?”

Spread the love

Hi, Global health warriors! Environmental Health Working Group (EMH) mengadakan kopdar keduanya dengan tema “Waste management 2.0, what’s next ?”pada hari sabtu, 28 Juli 2018 di Jakarta. EMH mengangkat tema ini sebagai bentuk dari lanjutan kopdar pertama, seperti yang di paparkan sebelumnya, peran aspek sosial – budaya, menjadi agent of changedi dalam lingkungan masyarakat yang menyebarluaskan informasi dan memotivasi untuk melakukan pengelolaan sampah terutama dalam pemilahan sampah adalah hal yang perlu di perhatikan, hal ini akan sejalan dengan perilaku hidup sehat yang mana nantinya akan berdampak positif bagi kesehatan individu dan lingkungan. Kopdar kali ini menghadirkan narasumber, yaitu Tasia Rosalina, dia adalah leader dari world clenup day Jakarta, saat ini masih menjalani pendidikan di fakultas teknik lingkungan Surya University.

Kopdar GHI kali ini di moderatori oleh Aldy Setiawan Putra, S.Ked  selaku Head of Environmental Health Working Group. Sesi kopdar dibuka dengan pemaparan oleh Tasia mengenai pola hidup kita yang konsumtif sehingga kehidupan kita dikelilingi oleh sampah. Kini dunia dipenuhi oleh berbagai macam jenis sampah dari mulai sisa bahan makanan, plastik sekali pakai, hingga e-waste (Electroinc waste).

Menurut Kementrian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Republik Indonesia, terdapat lima aspek masalah pada pengelolaan sampah.

  1. Partisipasi masyarakat
    1. Tidak terkoordinasi dengan struktur yang jelas
    2. Aksi dan dampak tidak terpantau
    3. Belum terintegrasai dengan sektor informasi dan belum ada sistem yang memadai
  2. Institusi / kelembagaan
    1. Kurangnya komunikasi kerjasama dengan instansi terkait
    2. Belum terintegrasi dengan jelas
  3. Hukum / Kebijakan
    1. Penegakan hukum masih lemah dan tidak terkoordinasi dengan baik
    2. Regulasi tidak sesuai dengan data kondisi lapangan
  4. Teknik operasi
    1. Pemanfaatan teknologi belum maksimal
    2. Belum ada platform untuk kolaborasi pengelolaan sampah
  5. Keuangan
    1. Biaya retribusi masih belum mencerminkan semua pengeluaran yang diperlukan untuk biaya pengelolaan kebersihan

Dalam prosesnya sendiri, sampah yang dihasilkan tidak semua akhirnya masuk ke penampungan sampah untuk di daur ulang, namun ada yang tidak terangkut ke tempat penampungan dan terbengkalai di lingkungan, bahkan dari perumahan masyarakat sendiri masih ada yang belum memiliki akses ke tempat penampungan sampah.

Gambar 1. Kondisi Eksisting Aliran Sampah Indonesia (KemenPUPR,2018)

Dengan kondisi saat ini jelas menjadi sebuah masalah tidak hanya berimplikasi kepada lingkungan, namun juga kepada kesehatan Masyarakat. Misalnya saja yang terjadi akibat pengelolaan sampah yang buruk akan menimbulkan pencemaran lingkungan seperti di sungai dan sumber air yang dimanfaakan oleh masyarakat untuk kebutuhan hidup. Tidak di situ saja, akibat sampah yang terlantar akan menimbulkan banyaknya serangga lalat yang hinggap dan tidak menutup kemungkinan akan hinggap di makanan yang tidak terlindungi. Belum selesai dengan hal tersebut, setelah sampah di olah di pengelolaan sampah dan dijadikan sebagai tenaga listrik dengan cara pembakaran, emisi yang dihasilkan juga akan berdampak pada polusi lingkungan dan partikel yang terhirup saat bernafas juga menjadi isu kesehatan yang harus di perhatikan. Karena kandungan zat kimia dari sampah plastik bersifat karsinogenik yang mana dapat memicu kangker.

Gambar 2. Dampak Kesehatan dari Polusi Sampah

Pengelolaan sampah di Indonesia masih menggunakan sistem ekonomi linear yang mana kita mengambil sumberdaya alam sebagai bahan baku, melakukan produksi secara masal sebuah produk, menggunakan produk yang di hasilkan, dan membuangnya ke penampungan sampah jika sudah tidak bisa di gunakan atau tidak lagi memiliki nilai harga. Hal ini yang perlu menjadi perhatian, dengan mengubah sistem ekonomi linear menjadi sistem ekonomi sirkuler diharapkan bahan baku yang digunakan adalah bahan yang sudah habis pakai di daur ulang kembali tanpa perlu mengambil sumberdaya alam baru.

Gambar 3. Sistem Ekonomi di Bidang Produksi

Pemerintah dalam Kebijakan dan Strategi Nasional (JAKSTRANAS) yang tertuang dalam peraturan presiden Republik Indonesia No. 97 tahun 2017, tentang kebijakan dan strategi nasional pengelolaan sampah rumah tangga dan sejenis sampah rumah tangga, adalah arah kebijakan dan strategi dalam pengurangan dan penanganan sampah rumah tangga dan sampah sejenis rumah tangga tingkat nasional yang terpadu dan berkelanjutan. Arah kebijakan dan strategi yang dimaksud meliputi peningkatan kinerja di bidang:

  1. Pengurangan sampah
    1. Pembatasan timbulan
    2. Pendauran ulang
    3. Pemanfaatan kembali
  2. Penanganan sampah

Dilakukan diseluruh tingkat pemerintahan – pusat, provinsi, kabupaten/kota (Jakstrada). Pada pelaksanaannya, pembagian urusan persampahan menjadi kewenangan bidang pekerjaan umum (PUPR) dan lingkungan hidup (KLHK).

Dari sudut pandang masalah pengelolaan sampah saat ini, apa selanjutnya?

Dibutuhkan sebuah transformasi yang terpadu dan berkelanjutan dalam melakukan penangan pengelolaan sampah. Adanya mekanisme pendekatan sebuah kebijakan yang baik ditambah dengan instrument ekonomi seperti ekonomi sirkular, serta dukungan masyarakat akan menghasilkan sebuah perubahan pola perilaku dalam pengelolaan sampah. Kolaborasi interdisiplin menjadi landasan utama dengan memperhatikan kesetaran, transparansi, dan manfaat bersama.

Tidak hanya berhenti disitu, dari hal terkecil yaitu individu, kita harus memiliki kesadaran akan kondisi saat ini khususnya mengenai pengelolaan sampah. Dengan begitu akan menajdi pemantik untuk mau mencari dan berbagi tentang informasi yang ada. Setelah itu apa akan berhenti di situ saja? Tentu tidak, ambilah sebuah langkah aksi. Bertanggung jawab terhadap konsumsi pribadi, berpartisipasi dalam kegiatan kolaborasi / komunitas dalam menyelesaikan permasalahan yang ada.

Gambar 4. Peran Penting Individu dalam Mengelola Sampah

Adanya kebijakan pemerintah yang medukung pengelolaan sampah yang lebih baik akan membantu perubahan pertumbuhan eonomi yang diharapkan mengalami perubahan dari sistem ekonomi linear menjadi ekonomi sirkuler, dan dengan adanya kesadaran bahwa pentingnya pengelolaan sampah akan memunculkan dampak positif tidak hanya pada lingkungan dimana menjaga lingkungan secara bersama – sama asas gotong royong, namun juga berdampakpada  sektor kesehatan individu, kelompok/ komunitas, dan masyarakat yang semakin baik.

Sekian pemaparan kegiatan Kopdar Globular HI, Environmental Health Working Group. “Waste Management 2.0, What’s Next ?”. Sampai jumpa di kopdar berikutnya!

Leave a Reply

Close Menu