Udara Sehat Hak Siapa?

Spread the love

Dalam melaksanakan upaya kesehatan masyarakat khususnya di Indonesia, selain penyakit menular (TBC, DBD, HIV) Indonesia saat ini di bebankan oleh penyakit tidak menular (hipertensi, diabetes, gizi buruk, kangker). Berdasarkan data WHO (world health organization), Indonesia adalah negara peringkat ke 2 dengan penyakit tuberculosis (TBC) terbesar di dunia setelah India. Hal ini perlu menjadi sorotan, karena penularan penyakit TBC melalui udara bebas yang terhirup oleh kita, khususnya bagi teman-teman yang beraktifitas di luar ruangan.

Tidak hanya penyakit TBC, udara yang menjadi mediator penularan juga menjadi masalah kesehatan lingkungan, yaitu polusi udara. Asap kendaraan bermotor, pembakaran sampah, asap industri, hingga rokok menjadi penyumbang polusi udara.

Debris / debu yang berukuran 2,5 mikron yang di kenal dengan istilah PM 2,5 (particles less than 2,5 micrometer) ini terbang bebas di udara dengan berbagai campuran debu, metal, dan tentunya bakteri, (termasuk bakteri TBC) terhirup sampai kedalam paru, bahkan masuk kedalam sirkulasi darah di dalam tubuh manusia.

Laporan WHO menunjukkan setiap tahun sekitar 7 juta kematian yang diakibat polusi udara, seperti stroke, serangan jantung, kanker paru, penyakit pernapasan kronik, dan meningkatkan angka kejadian asma. Asia Tenggara menjadi penyumbang terbesar, yaitu lebih dari 2 juta kematian akibat polusi udara.

Pertanyaannya, apa yang bisa kita lakukan ?

Sebagai langkah awal, mari kita kawal program kementerian kesehatan dalam eradikasi kuman TBC. Mengetahui penanganan dalam mengobati penyakit ini tentu membantu kita dalam mengambil langkah pencegahan penyakit TBC di lingkungan masyarakat menjadi lebih baik.  Sekarang ini pengobatan penyakit TBC bisa di akses melalui puskesmas tanpa biaya pengobatan dengan kata lain gratis.

Hal paling utama adalah jangan jauhi penderitanya, kita harus mendukung mereka dalam menjalani pengobatan. Dukungan kita sebagai orang terdekat mereka sangat bermanfaat, memberikan semangat secara psikologis dan mental yang positif dalam menjalankan pengobatan. Program pengobatan yang membutuhkan waktu cukup lama, sekitar 6 bulan atau bahkan lebih,membuat pasien menjadi jenuh, bosan minum obat, sehingga peran kita sebagai orang terdekat menjadi krusial.

Bagaimana dengan polusi udara ?. Hal paling mudah yang bisa kita lakukan adalah  hilangkan penyebab polusi udara, seperti meminimalisir penggunaan kendaraan bermotor, berhenti membakar sampah, berhenti merokok, dan beralih menggunakan energi terbarukan (energi angin, matahari, air).

Perlindungan diri perlu dilakukan dengan menggunakan masker, tapi bukan sembarang masker,  WHO merekomendasikan penggunaan masker N95. Sebenarnya masker ini untuk kasus wabah penyakit, tetapi perlindungannya mampu untuk menyaring pm2,5. Sayangnya harganya cukup mahal dan tidak bisa dipakai terus menerus. Tidak berhenti disitu saja, kalian juga bisa menggunakan internet untuk berbagi atau mencari informasi dan kegiatan yang bisa meningkatkan pengetahuan tentang penyakit TBC dan polusi udara.

Sebagai contoh kasus, seperti di stasiun kereta. Ketika orang lain bersin, dan batuk sembarangan, bakteri yang berterbangan dan bercampur dengan debu yang melayang di udara sangat mudah terhirup oleh siapa saja dan tidak disadari oleh mereka, belum lagi tercampur dengan debu – debu jalanan.

Diharapkan kedepannya, adanya kerja sama lintas sektoral dalam menyelesaikan permasalahan kesehatan saat ini guna meningkatkan kualitas udara yang sehat tidak hanya di ibu kota, numun juga di kota — kota besar Indonesia. Masalah ini bukan hanya menjadi fokus bidang kesehatan, namun juga menjadi fokus dari semua sektor (pemangku kebijakan, investor, tata kota, ekonomi, hukum, dll), bahkan masyarakat awam sebagai penggerak dalam lingkungan masyarakat menjadi titik utama dalam menyelesaikan permasalahan kesehatan saat ini.

Oleh : dr. Aldy Setiawan Putra

Leave a Reply

Close Menu