Ramadhan dan Sampah Makanan

Spread the love

Oleh: Food Sustainability Working Group

 

Ramadhan merupakan momen yang sangat ditunggu-tunggu oleh Umat Muslim di dunia. Acara buka puasa bersama tentu saja menjadi hal yang sulit untuk dilewatkan selama bulan Ramadhan. Kebahagiaan saat berbuka bersama kerabat atau teman yang tidak bisa dirasakan di bulan lain menjadi salah satu alasannya.

Berkaitan dengan hal tersebut, Food Sustainability Working Group Globular HI ingin mengajak untuk mengulas kembali fenomena yang terjadi selama bulan Ramadhan dari sudut pandang yang berbeda.

Terdapat satu isu yang menjadi permasalahan di Bulan Ramadhan, yaitu sampah makanan (food waste). Peningkatan jumlah makanan yang terbuang di bulan Ramadhan cukup signifikan. Setiap orang di Indonesia dapat membuang sekitar 300 kg makanan yang masih bisa dikonsumsi setiap tahunnya. Selama bulan Ramadhan volume makanan yang dibuang cenderung lebih besar dibandingkan bulan lainnya. Sebagai contoh, kantor berita BBC menyebutkan makanan yang terbuang di Uni Emirat Arab sebanyak 2,7 kg per orangnya meningkat menjadi 4,5 kg per orang.

Pada Bulan Ramadhan, terjadi kenaikan jumlah konsumen dan pembelian bahan makanan di masyarakat. Secara umum, peningkatan pembelian bahan makanan meningkat sebanyak  50% dari bulan-bulan lainnya. Peningkatan pembelian bahan makanan yang berlebihan tersebut menyebabkan banyaknya makanan yang terbuang.

Di sisi lain, keinginan masyarakat dalam mengonsumsi makanan yang lebih segar juga membuat masyarakat cenderung membuang makanan yang sudah terlihat tidak segar meskipun makanan tersebut masih bisa dikonsumsi.

Fenomena acara buka puasa bersama merupakan salah satu pemicu meningkatnya jumlah sampah makanan di bulan Ramadhan. Tidak jarang masyarakat membeli makanan dalam jumlah yang berlebihan sehingga menimbulkan sisa. Sisa makanan di restoran seringkali terbuang percuma dan menjadi sampah makanan. Jika dijumlah, sisa makanan di Indonesia setiap tahunnya setara dengan jumlah makanan yang dapat dikonsumsi oleh 28 juta orang.

Sampah makanan saat ini merupakan salah satu isu global yang berkaitan dengan ketahanan pangan dunia. Badan Pangan Dunia (FAO) mengemukakan bahwa secara global, sekitar 30% makanan yang diproduksi terbuang percuma. Sekitar 1,3 ton makanan yang sebetulnya masih bisa dikonsumsi terbuang dan diperlakukan sebagai sampah. Data Economist Intelligence Unit menunjukkan bahwa Indonesia merupakan penyumbang sampah makanan terbanyak kedua di dunia setelah Saudi Arabia.

Sampah makanan di atas bersumber dari makanan yang rusak akibat kurang baiknya proses distribusi, makanan yang tidak terjual di pasar atau supermarket, makanan sisa pengunjung hotel atau restoran, hingga sisa makanan rumah tangga.

Dampak dari terbuangnya makanan tidaklah kecil. Tanpa disadari, dengan terbuangnya 1,3 ton makanan, maka sumber daya yang digunakan selama proses produksi hingga makanan tersebut sampai ke piring konsumennya pun ikut terbuang. Perhitungan ekonomi yang dilakukan oleh FAO mencatat 218 juta dolar Amerika, atau 1,3%  total pendapatan negara tersebut, terbuang sia-sia dalam proses di atas. Di samping itu, sampah makanan yang menumpuk di tempat pembuangan akhir juga menjadi sumber gas metana yang berkontribusi sebagai pemicu perubahan iklim.

Sampah makanan berkontribusi sebagai penghasil gas rumah kaca terbesar ketiga jika diabndingkan dengan negara lainnya.

Pernahkah kamu membuang makanan?

Fakta mengenai sampah makanan di atas seharusnya bisa membuat kita agar berpikir kembali sebelum membuang makanan yang masih layak dikonsumsi. Untuk mengurangi sampah makanan, terdapat beberapa hal kecil yang bisa kita lakukan, misalnya:

  • Mulai dengan porsi kecil setiap kali makan, atau jika membeli makanan dengan porsi besar, berbagilah untuk dimakan bersama.
  • Jika memang hasil masakan dirasa terlalu banyak, bisa berbagi dengan tetangga, teman, atau orang lain yang lebih membutuhkan.
  • Jangan sisakan bahan makanan, sebisa mungkin manfaatkan semua makanan bahan makanan yang ada
  • Ketika menemukan sisa bahan makanan yang belum dimasak, upayakan untuk mengolah bahan tersebut terlebih dahulu sebelum membeli bahan makanan baru.
  • Beli bahan makanan dan makanan sesuai kebutuhan, gunakan daftar belanja untuk menghindari belanja berlebih yang pada akhirnya akan terbuang
  • Memasak atau membeli makanan sesuai dengan jumlah anggota keluarga atau jumlah orang yang akan mengonsumsi makanan. Selain itu, perlu diperhatikan jika akan memasak makanan yang mudah basi. Sangat perlu mempertimbangkan jarak waktu masak dengan waktu makan.
  • Jangan hanya membeli buah atau sayur yang bentuknya terlihat bagus, meskipun bentuknya kurang bagus, makanan tersebut masih bisa dimakan dan memiliki kandungan gizi yang sama
  • Simpan makanan pada suhu dan kondisi yang sesuai. Cara menyimpan bahan makanan berbeda-beda. Sayuran, buah-buahan, daging, susu, roti, masing-masing memiliki cara penyimpanan yang berbeda.

  • Gunakan terlebih dahulu makanan yang dibeli lebih awal (first in first out). Dahulukan penggunaan bahan makanan yang dibeli dan memiliki tanggal kadaluarsa lebih awal.
  • Jangan membuang makanan yang belum melewati tanggal kadaluwarsa. Daripada dibuang, akaab lebih baik jika makanan tersebut diberikan kepada orang yang membutuhkan
  • Beli dan konsumsi lebih banyak makanan lokal untuk menghindari impor makanan yang meningkatkan risiko kerusakan makanan
  • Gunakan sisa makanan yang sudah tidak bisa dikonsumsi sebagai bahan kompos.

Sebelum membuang makanan yang kita anggap sebagai sampah, ingatlah bahwa dengan membuangnya berarti kita juga membuang sumber daya yang digunakan untuk memproduksinya dan menghilangkan kesempatan untuk memberi makan penderita kelaparan dan kurang gizi di dunia.

Sumber:

  1. https://www.bbc.com/news/av/business-14592078/how-to-reduce-food-waste-in-ramadan
  2. https://food.detik.com/info-kuliner/d-3496949/uea-buat-kampanye-baru-untuk-atasi-pemborosan-makanan-selama-ramadan
  3. https://www.ecomena.org/food-wastes-ramadan/
  4. FAO. Food Wastage Footprint & Climate Change. 2011;(1):1–4.
  5. http://jakartaglobe.id/business/indonesia-second-largest-food-waster/
  6. http://www.mausehat.com/menyiasati-makanan-supaya-tidak-mubadzir-di-bulan-puasa/
  7. https://gulfnews.com/xpress/news/how-to-reduce-food-wastage-this-ramadan-1.2032621
  8. Puckett, Ruby P. Food Service Manual for Health Care Institutions, 9th ed. Chicago : AHA Press, 2005

Leave a Reply

Close Menu