POLUSI UDARA: ISU LINGKUNGAN “SAJA”

Spread the love

Pada Mei 2009, jurnal medis ternama, The Lancet, memuat isu perubahan iklim sebagai “ancaman terbesar kesehatan global pada abad ke-21.” Hal ini sempat mengejutkan kalangan medis, bagaimana bisa? Medis yang selama ini gencar meneliti dan mengembangkan pengetahuan hingga tingkat mikroskopis harus menelan fakta bahwa di tingkat global, hal ini memerlukan perhatian yang lebih besar dari tingkat mikro.

Perubahan iklim, pemanasan global, mencairnya es di kutub, ancaman biodiversitas bumi, bencana alam ekstrem yang semakin sering, merupakan isu lingkungan yang nyata sejauh ini. Fenomena lingkungan yang mengkhawatirkan ini justru dielu-elukan dengan ujung tombak “menyelamatkan bumi” daripada “menyelamatkan manusia”. Kegelisahan ini tertulis juga dalam publikasi jurnal yang sama, The Lancet, pada tahun 2015.

“When climate change is framed as a health issue, rather than purely as an environmental, economic, or technological challenge, it becomes clear that we are facing a predicament that strikes at the heart of humanity. “

Helena Wang, Richard Horton dalam Tackling climate change: the greatest opportunity for global health. – The Lancet, Juni 2015.

Salah satu bukti nyata dari perspektif ini adalah ambisi California untuk mengganti kendaraannya menjadi electric vehicle setelah melihat isu polusi dari kacamata kesehatan, yaitu untuk meningkatkan kesehatan warganya, ketimbang menilai isu polusi udara hanya sebagaiisu lingkungan.

Dalam konteks permasalahan global dengan cakupan lokal, perihal spesifik yang menjadi perhatian GHI dalam isu perubahan iklim adalah polusi udara. Pasalnya, berdasarkan data WHO South East Asia, setiap tahunnya terdapat 799,000 kematian yang berhubungan dengan polusi udara, dengan proporsi 36% disebabkan kanker paru, 34% stroke, dan 27% penyakit kardiovaskular.

AirPollution

Kondisi polusi udara begitu memprihatinkan di Indonesia. Berdasarkan penelitian Global Landscape Forum, kebakaran hutan di Indonesia pada tahun 2015, diestimasikan menghasilkan emisi CO2 lebih besar daripada emisi CO2 yang dihasilkan Amerika dalam satu tahun. Sedangkan masalah kebakaran hutan ini merupakan “isu langganan” Indonesia yang sudah terjadi sejak beberapa dekade lalu.

Polusi udara, khususnya di Jakarta, juga berada dalam masalah yang sama dengan California. Berdasarkan wawancara Vice Indonesia dengan Walhi, kontributor utama polusi udara di Jakarta adalah kendaraan bermotor (70% dari PM10). Selain itu, Ruang Terbuka Hijau (RTH) di Jakarta masih sangat kurang, yaitu kurang dari 10%, padahal standar RTH untuk DKI Jakarta adalah 30%. Dwi Sawung dari Walhi juga berpendapat bahwa Ruang Pelayanan Terpadu Ramah Anak (RPTRA) sejauh ini menggunakan beton namun tidak ada tanaman hijau rindang.

Konklusi

Komitmen yang dibutuhkan untuk menjadikan udara di Jakarta menjadi lebih bersih adalah dengan memprioritaskan jalan kaki, bersepeda, dan menggunakan transportasi publik serta memperbanyak Ruang Terbuka Hijau (RTH). Langkah Pemerintah Daerah DKI Jakarta untuk memperbaiki kualitas transportasi publik serta merealisasikan transportasi massal seperti MRT dan LRT sudah sejalan dengan harapkan dapat mengalihkan pilihan masyarakat Jakarta dari kendaraan pribadi ke transportasi publik sehingga secara tidak langsung juga akan meningkatkan kualitas udara yang dinikmati warga Jakarta. GHI berharap selain peningkatan kualitas transportasi, Pemerintah Daerah DKI dapat mencontoh California, yang menjadikan isu polusi udara, sebagai isu kesehatan ketimbang hanya sebagai pengurai macet, serta adanya rencana konkret untuk peningkatan Ruang Terbuka Hijau (RTH).

GHI akan mengadakan diskusi serial ketiga, GHI Serial Discussion #3 dengan tema “Climate Change and Global Health” pada tanggal 15 Juli 2017 di bertempat Semasa Cafe, Gedung Olveh, Kota Tua Jakarta, sekaligus workshop menanam tanaman hidroponik oleh “Lihat Kebunku”. Untuk registrasi, silakan hubungi globular.hi@gmail.com atau LINE Account Globular: @bdh4002j. Tempat terbatas untuk 30 peserta.

Leave a Reply

Close Menu