Pendidikan Kedokteran di Indonesia: Masih Mahal?

Spread the love

Oleh: Timoty Mario, S.Ked

Perspektif tentang dunia kedokteran dari setiap periode masa terus bergeser. Pada awalnya seorang ahli penyembuhan/tabib/dokter dianggap sebagai sebuah profesi yang diagungkan karena dapat melakukan keajaiban untuk menyembuhkan manusia dari penyakit. Pandangan awam menganggap dokter sebagai profesi yang maha tahu dalam persoalan medis atau bidang-bidang yang berkaitan dengan medis. Sehingga tuntutan profesi bagi seorang dokter akan sangat tinggi jika sudah turun ke dalam masyarakat.

Pendidikan kedokteran di Indonesia mengikuti zaman dengan terus berubahnya kurikulum pendidikan. Pada awal masa kemerdekaan Indonesia, pendidikan kedokteran masih menyesuaikan kurikulum peninggalan Belanda, dimana seseorang akan menempuh waktu yang panjang selama + 10 tahun hanya untuk dapat menyelesaikan pendidikan kedokteran umum. Hal ini terus berubah sampai di tahun 2009 dimana lamanya kuliah kedokteran menjadi + 5,5 tahun sampai saat ini. Dengan mahalnya fasilitas penunjang pendidikan seperti alat-alat bantu kesehatan dan buku-buku pelajaran yang dipakai selama pendidikan, tidak mengherankan jika biaya yang diperlukan seorang calon dokter sangatlah mahal.

Berdasarkan dari berbagai sumber data yang dikumpulkan pada awal tahun 2018 , biaya yang diperlukan seseorang untuk dapat menempuh pendidikan kedokteran di Perguruan Tinggi Negeri berdasarkan Biaya Kuliah Tunggal dengan rata-rata Rp 10 – 20 Juta per semester, belum termasuk Uang Kuliah Tunggal (UKT) yang disesuaikan dengan kemampuan ekonomi masing-masing mahasiswa. Jumlah ini kalah jauh dibanding biaya bagi seorang mahasiswa yang ingin kuliah kedokteran di Perguruan Tinggi Swasta dengan biaya masuk sebesar Rp 300-500 juta, kemudian dibebankan biaya per semester dengan rerata Rp 20-30 juta. Hal ini belum ditambahkan dengan biaya yang diperlukan untuk melanjutkan pendidikan ke tahap Kepaniteraan Klinik kedokteran, dimana kita akan sering menemukan dokter-dokter Muda atau terkenal dengan istilah Co-Ass ( Co – Assistant ) di rumah sakit pendidikan selama 1,5 – 2 tahun. Berdasarkan fakta-fakta tersebut, jelaslah sudah diperlukan biaya yang sangat banyak untuk mencetak seorang dokter di Indonesia.

Selain beban materi, seorang mahasiswa kedokteran atau calon dokter juga akan mengalami beban-beban psikologis selama pendidikan yang didapatkan selama pendidikan. Pada beberapa institusi sudah menerapkan sistem Drop Out bagi seorang mahasiswa jika tidak menyelesaikan proses pendidikan yang ditentukan. Biaya selama kuliah akan sangat sia-sia terbuang jika pada akhirnya harus dikeluarkan karena ketidakmampuan dalam menjalani proses pendidikan.  Belum lagi jika menyebutkan bahwa pada tahap akhir pendidikan kedokteran, setiap mahasiswa akan dihadapkan pada Ujian Kompetensi Mahasiswa Program Profesi Dokter (UKMPPD) yang diselenggarakan secara nasional sebagai syarat lulus mutlak untuk menjadi dokter. UKMPPD merupakan exit exam dari seorang calon dokter agar bisa dilantik menjadi seorang dokter yang sesungguhnya.

Setelah lulus dan disumpah menjadi dokter, seorang dokter “Fresh Graduate” belum dapat langsung praktik secara mandiri, dikarenakan Pemerintah melalui Kementerian Kesehatan mewajibkan bagi setiap orang yang telah lulus menjadi dokter untuk menjalani Program Internship.  Lewat program ini, setiap dokter akan ditempatkan berdasarkan regional wilayah yang dipilih secara rebutan dan serentak melalui akses situs Kementerian Kesehatan, agar dapat menjalani program wajib ini selama satu tahun penuh dengan bermodalkan Bantuan Hidup Dasar (BHD) sebesar UMR Nasional. Setelah menjalani program ini, barulah seorang dokter dapat praktik secara mandiri karena sudah memiliki Surat Tanda Registrasi (STR) & Surat Ijin Praktek (SIP) resmi.

Setelah mengetahui jalan panjang terbentuknya seorang dokter, lamanya waktu yang dibutuhkan seseorang untuk menjadi dokter secara mandiri di zaman modern ini ialah 6,5 – 7 tahun dengan biaya yang dapat disesuaikan berdasarkan institusi asal. Penjabaran tentang perspektif pendidikan kedokteran yang telah dibahas, baru sampai pada tahap pertama karena cerita pendidikan kedokteran akan semakin panjang dan lebar jika dilanjutkan ke tahap pendidikan berikutnya ( Strata 2 / Pendidikan Dokter Spesialis ).

Dengan mahalnya biaya yang diperlukan agar dapat bertahan dalam proses pendidikan yang memakan waktu sangat panjang dibanding disiplin ilmu yang lain, dunia kedokteran terkesan dengan kemewahan karena akses pendidikan tersebut dianggap sebagai milik dari golongan masyarakat menengah ke atas. Masih sangat sedikit sekali kesempatan bagi anak-anak bangsa yang tidak memiliki kemampuan biaya cukup agar dapat kuliah kedokteran. GHI berharap akan muncul solusi yang solutif terkait pendidikan kedokteran pendidikan kedokteran dapat diakses oleh anak-anak bangsa yang berprestasi meski tidak mampu secara ekonomi, sehingga disparitas sosial tidak timbul di dalam dunia kedokteran yang sangat terikat dengan hakikat kesehatan manusia agar semakin mengurangi opini di masyarakat bahwa dokter di Indonesia bekerja untuk “balik modal” saja.

 

Referensi :

  1. Definisi Kedokteran : Kamus Kedokteran Dorland Edisi 28.
  2. Sejarah Dunia Kedokteran : Perhimpunan Sejarah Kedokteran Indonesia.
  3. https://edukasi.kompas.com/read/2018/07/05/11232941/biaya-kuliah-pendidikan-dokter-di-beberapa-universitas-negeri . Luthfia Ayu Azanella. Juli, 2018.
  4. https://edukasi.kompas.com/read/2018/07/06/13360271/ini-dia-biaya-kuliah-kedokteran-5-universitas-swasta-terakreditasi-a. Yohanes Enggar Harususilo. Juli, 2018.
  5. https://www.idntimes.com/life/education/agung-wahyu-hidayat/jalan-panjang-pendidikan-dokter-di-indonesia-c1c2/full. Agung Wahyu Hidayat. Maret, 2017.

Leave a Reply

Close Menu