Population Health: Mereka Yang Terabaikan

Population Health: Mereka Yang Terabaikan

Spread the love

Oleh : Adhi Prasetya, B.Eng

Tempat ini adalah sebuah kota di dalam kota. Orang-orang setempat menjulukinya sebagai City of Darkness karena semua penduduknya memang tidak bisa melihat matahari. Dengan luas sebesar 4 kali lapangan sepak bola kota tersebut menampung 35,000 penduduk. Setiap orang hanya memiliki ruang seluas 3.7 meter persegi. Untuk mencukupi kebutuhan, maka bangunan disusun keatas dan dibatasi 14 lantai untuk menyediakan ruang bagi pendaratan pesawat di lapangan terbang terdekat.

Terdengar seperti fiksi, namun ini adalah cerita nyata Kowloon Walled City yang menjadi tempat tinggal para pengungsi dari Tiongkok karena perang saudara pada tahun 1947. Daerah tersebut di perebutkan oleh Tiongkok dan Inggris yang menyebabkan tidak ada satupun negara yang mengambil andil dalam memberikan kesejahteraan kepada kota tersebut. Alhasil, kota tersebut menjadi sarang peredaran narkoba dan menjadi rumah bagi sindikat criminal triads. Tidak ada fasilitas negara yang ditempatkan di dalam Kowloon, sehingga kesehatan masyarakat bergantung kepada dokter tanpa lisensi dan restoran yang tidak memenuhi standar. Ditambah lagi dengan persediaan air yang terbatas—hanya 8 pipa tegak yang disediakan oleh pemerintah untuk mencukupi 35,000 warganya—membuat tempat ini semakin tidak layak ditinggali. Namun, pada kenyataannya disamping keadaan yang buruk, warga kota ini terus bertambah dari 2000 penduduk ketika pertama kali ditempati hingga mencapai 50,000 ketika kota ini dirobohkan pada tahun 1993. Kesaksian penduduknya menyatakan bahwa kota tersebut menjadi tempat yang aman untuk kriminalitas berkembang termasuk menjadi rumah bagi sebagian masyarakat pekerja yang mau menghindari pajak.

Kowloon Masa Kini?

Kowloon Walled City merupakan sejarah yang sudah berlalu, tetapi motif ini masih tetap ada hingga sekarang. Perumahan kumuh tidak hanya terjadi di Hong Kong 30 tahun yang lalu. Hingga tahun 2014, tercatat 880 juta penduduk di dunia tinggal di perumahan kumuh. Di tahun yang sama tercatat 55 persen penduduk di benua Afrika tinggal di perumahan kumuh. Negara maju pun tidak terhindar dari masalah ini dimana 30 persen penduduknya tinggal di perumahan kumuh. Hingga tahun 2030, 60 persen penduduk di muka bumi ini akan tinggal di kota-kota besar. Bila tidak ada perencanaan tata kota yang matang dan kesediaan infrastruktur yang memadai, bukan tidak mungkin Kowloon Walled City berubah dari sejarah menjadi fenomena yang terjadi di seluruh dunia.

Namun, definisi “kumuh” bisa menjadi perdebatan. Perumahan seperti apa sih yang disebut kumuh? Karena standar kehidupan setiap orang berbeda, maka PBB memberikan definisi operasional untuk permukiman kumuh:

  • Akses air minum yang tidak memadai
  • Akses kebersihan yang tidak memadai
  • Kualitas bangunan yang buruk
  • Kepadatan yang tinggi
  • Status tempat tinggal yang tidak pasti

Melalui definisi inilah PBB menilai kelayakan suatu daerah pemukiman di samping persepsi penduduknya yang sebaliknya melihat pemukiman mereka layak ditinggali.

Kebanyakan orang mampu menyebutkan masalah pemukiman kumuh, seperti kemiskinan, sanitasi yang buruk, dan keamanan. Namun, tidak banyak yang mengetahui apa penyebab masalah sosial yang terjadi di pemukiman kumuh. Ketika kita melihat kembali kasus ekstrim dari Kowloon Walled City, kita melihat dengan jelas apa yang menjadi penyebab utamanya.

Masyarakat Isolasi

Masyarakat pemukiman kumuh pada dasarnya adalah pemukiman yang dibangun di luar perencanaan sentral pemerintah, maka daerah ini tidak mendapat fasilitas pemerintah yang layak. Tanpa intervensi pemerintah yang memadai, maka daerah kumuh menjadi rawan dalam beberapa hal.

Tanpa infrastruktur yang layak, daerah kumuh sangat rawan terhadap berbagai bencana. Daerah kumuh di bantaran sungai sangat rawan terhadap banjir, kepadatan yang berlebih menjadikan daerah kumuh juga rawan terhadap kebakaran, struktur yang tidak layak juga sangat rawan terhadap gempa. Akses yang sedikit juga menyebabkan pemukiman kumuh memiliki tingkat keamanan yang rendah, hal ini dikarenakan status sosial yang mendukung meningkatnya kriminalitas dan akses kepolisian yang tidak memadai. Fasilitas kesehatan yang formal pun sulit masuk ke dalam daerah tersebut, maka kebanyakan jasa kesehatan di daerah kumuh diberikan oleh pengobatan alternatif dan dokter tradisional. Program kesehatan juga sulit untuk menemukan intervensi yang cocok karena riset mengenai dinamika kesehatan di dalam daerah kumuh sangat minim.

Mencari Jalan Keluar

Di dalam usaha memberantas kemiskinan dan meningkatkan standar hidup  masyarakat dunia, masalah pemukiman kumuh tidak bisa dibiarkan. Salah satu tujuan dari Sustainable Development Goals (SDG) adalah membuat perkotaan menjadi inklusif, aman, kuat dan berkelanjutan. Maka di dalam perkembangan setiap kota masyarakat yang terisolasi di dalam pemukiman kumuh tidak bisa diabaikan. Namun bagaimanakah cara kita mampu mengadakan perlawanan terhadap tren pemukiman kumuh?

 

Sumber:

https://www.nytimes.com/1992/06/16/world/hong-kong-journal-the-walled-city-home-to-huddled-masses-falls.html

https://www.un.org/ruleoflaw/files/Challenge%20of%20Slums.pdf

https://bmcinthealthhumrights.biomedcentral.com/articles/10.1186/1472-698X-7-2

van de Vijver S, Oti S, Kyobutungi C, et al. Challenges of health programmes in slums. Lancet (London, England) [serial online]. November 21, 2015;386(10008):2114-2116. Available from: MEDLINE, Ipswich, MA. Accessed May 2, 2018.

Leave a Reply

Close Menu