Menuju 2030 Tanpa Kelaparan

Spread the love

Oleh: Ayunda Jihadillah, S.KM

Food and Agriculture Organization (FAO) atau yang dikenal sebagai Organisasi Pangan Dunia menetapkan tanggal 16 Oktober sebagai hari pangan sedunia. Pada tahun ini, tema yang diangkat oleh FAO masih berkaitan dengan target kedua dari Sustainable Development Goals (SDGs), yaitu Zero Hunger.

Kelaparan di dunia masih menjadi salah satu permasalahan besar di bidang pangan yang berdampak terhadap kesehatan. Pada tahun 2016, jumlah penderita kelaparan bertambah sebanyak 38 juta jiwa dari tahun sebelumnya. Saat ini, diperkirakan lebih dari 800 juta orang berjuang setiap harinya untuk mendapatkan makanan dengan jumlah yang cukup. Jumlah tersebut melebihi total jumlah penduduk Indonesia, Amerika Serikat, dan Pakistan.

Kelaparan disebabkan oleh banyak faktor yang biasanya saling berkaitan, seperti faktor sosial, ekonomi, politik dan lainnya. Namun, beberapa penyebab terjadinya peningkatan jumlah penderita kelaparan saat ini diantaranya adalah perubahan iklim dan konflik yang terjadi di beberapa negara di penjuru dunia. Meski Indonesia tidak termasuk salah satu negara yang mengalami konflik, bukan berarti kita terlepas dari risiko kelaparan.

 

Kelaparan di Indonesia

Pada tahun 2015, data FAO menunjukkan bahwa 19,4 juta penduduk Indonesia masih mengalami kelaparan. Kasus kelaparan dan gizi buruk yang terjadi di Kabupaten Asmat Papua menjadi salah satu cerminan dari keadaan di Indonesia.  

https://ichef.bbci.co.uk/news/624/cpsprodpb/5E66/production/_100366142_josephbbc.jpg

Permasalahan pangan berkaitan erat dengan permasalahan gizi. Saat ini, Indonesia memiliki permasalahan gizi ganda (double burden malnutrition) yang menunjukkan bahwa angka gizi kurang dan gizi buruk yang masih tinggi terjadi seiring meningkatnya angka kejadian gizi lebih atau obesitas. Hal tersebut menunjukkan bahwa permasalahan pangan tidak hanya terjadi dalam bentuk kelaparan atau kekurangan makanan, tetapi dapat juga berbentuk asupan makanan berlebih.

Jika selama ini kelaparan identik dengan gizi buruk, para penderita gizi lebih juga rupanya memiliki risiko yang sama terhadap kelaparan. Terdapat dua jenis kelaparan yang saat ini terjadi di Indonesia. Jenis yang pertama berupa kelaparan yang terjadi akibat jumlah makanan yang dikonsumsi kurang dari kebutuhan seseorang. Kedua, kelaparan dapat terjadi pada seseorang yang sebetulnya memiliki asupan makanan yang secara jumlah (total kalori) cukup, tetapi tidak mencukupi dari segi zat gizi mikro (vitamin dan mineral) sehingga disebut sebagai the hidden hunger. Kelaparan jenis ini dapat terjadi pada seseorang dengan status gizi kurang, normal maupun berlebih.

Penduduk Kabupaten Asmat yang memiliki keterbatasan akses terhadap sumber pangan menjadikannya rentan untuk mengalami kelaparan. Namun, di wilayah perkotaan yang akses makanannya tergolong mudah, the hidden hunger sangat mungkin untuk terjadi. Jika melihat perkembangan makanan saat ini yang cenderung didominasi oleh pangan tinggi gula dan lemak, serta rendahnya konsumsi sayur dan buah pada masyarakat, risiko terjadinya the hidden hunger akan semakin meningkat.

Sampah Makanan dan Perubahan Iklim

Permasalahan pangan menjadi semakin sulit untuk diselesaikan dengan adanya isu lain seperti masih tingginya jumlah makanan yang terbuang, seperti dalam artikel http://www.globularhi.com/ramadhan-dan-sampah-makanan/ . Tingginya jumlah makanan layak konsumsi yang terbuang menurunkan kesempatan kita untuk memberi makan mereka yang membutuhkan dan menderita kelaparan. Keadaan diperparah oleh adanya perubahan iklim dan cuaca ekstrim yang membuat para petani semakin sulit untuk menghasilkan bahan pangan dengan jumlah yang kita butuhkan.

Beberapa faktor tersebut menunjukkan adanya urgensi untuk mengatasi permasalahan pangan dan kelaparan yang harus melibatkan semua orang. Dimulai dari tingkat individu, banyak hal yang dapat dilakukan untuk membantu mengatasi masalah tersebut. Mengurangi jumlah sampah makanan dan menjalankan pola hidup yang lebih ramah lingkungan adalah beberapa solusi diantaranya. Sementara itu, dibutuhkan individu atau kelompok yang dapat memaparkan permasalahan pangan kepada pemangku kebijakan. Pemecahan permasalahan pangan memerlukan kerjasama, koordinasi dan kolaborasi antara beberapa pihak yang saling berkaitan. Tanpa adanya kebijakan yang sesuai mengenai pengenadalian perubahan iklim dan isu terkait lainnya, masalah pangan akan semakin sulit untuk diselesaikan.

#Zerohunger2030

Penduduk dunia yang saat ini semakin bertambah, menimbulkan pertanyaan besar, “Bisakah kita memenuhi kebutuhan pangan di masa yang akan datang?”.

https://www.dropbox.com/sh/uwvjg8y8yp93hqe/AAAonoMFzt0ESYtItZckltL6a/large?dl=0&preview=WFD2018_Web_Banner_Large_EN.jpg&subfolder_nav_tracking=1

Target 2030 tanpa kelaparan atau #zerohunger2030 membutuhkan komitmen dari semua pihak. Salah satu bentuk komitmen GHI diwujudkan melalui adanya Food Sustainability Working Group yang memabahas isu-isu mengenai sistem pangan berkelanjutan. Namun, perubahan ke arah yang lebih baik dalam sistem pangan akan lebih mudah dicapai jika lebih banyak pihak, terutama anak muda yang mau ikut terlibat.

Sampai bertemu di tahun 2030!

 

Referensi:

http://www.fao.org/building-the-zerohunger-generation/learning-paths/working-for-zero-hunger/en/

http://www.fao.org/3/i9420en/I9420EN.pdf

https://www.voaindonesia.com/a/pemelitian-fao-sembilan-belas-koma-empat-juta-penduduk-indonesia-masih-mengalami-kelaparan/2817021.html

https://www.bbc.com/indonesia/indonesia-43363665

https://www.bbc.com/indonesia/indonesia-42872190

 

Leave a Reply

Close Menu