Pekan Imunisasi Dunia: Mengupas Lima Mitos Imunisasi

Pekan Imunisasi Dunia: Mengupas Lima Mitos Imunisasi

Spread the love

Oleh : dr. Gusti Adintya Putri

Hingga saat ini, masih ada masyarakat yang ragu untuk memberikan imunisasi pada anak-anaknya. Hal ini dipicu oleh beredarnya kabar burung seputar vaksin yang tidak benar, terutama di media sosial. Dalam rangka Pekan Imunisasi Dunia, Globular Health Initiatives akan membahas 5 mitos tentang vaksin yang tidak benar:

 

  1. Vaksin sudah tidak lagi dibutuhkan

Telah menurunnya jumlah penyakit karena vaksin justru membuat sebagian orang berpikir bahwa vaksin sudah tidak diperlukan kembali. Ini merupakan pemahaman yang salah. Faktanya, hingga hari ini penyakit yang betul-betul telah punah hanyalah Smallpox. Sementara penyakit lainnya, seperti Polio, masih ada di belahan dunia lain, yakni Pakistan, Afganistan, dan Nigeria.

Imunisasi bertujuan untuk membentuk kekebalan komunitas (herd immunity). Jika ada anak yang tidak diimunisasi maka anak tersebut akan memiliki risiko untuk terjangkit, terutama dari orang dewasa yang kekebalan tubuhnya lebih kuat.

Kejadian luar biasa (KLB) Polio di Sukabumi pada tahun 2005 lalu contohnya. Kepulangan salah satu warga jamaah haji ternyata membawa virus polio, lalu menularkan ke balita daerah setempat yang tidak diimunisasi.

KLB Difteri tahun lalu juga membuktikan bahwa anak yang tidak diimunisasi akan akan meningkatkan risiko penularan penyakit, , bahkan bagi anak-anak yang telah diimunisasi. Simak artikel GHI seputar difter disini .

 

2. Vaksin dapat menyebabkan Autisme

Mitos ini disebabkan oleh artikel yang diterbitkan The Lancet oleh Andrew Wakefield dkk pada tahun 1998. Peneliti tersebut menemukan hubungan antara vaksin campak, gondongan, dan rubella (MMR) dengan kejadian autisme dalam delapan kasus. Namun, setelah investigasi lebih lanjut dan penelitian dalam cakupan yang lebih luas, penelitian ini dinyatakan tidak benar dan memiliki konflik kepentingan. Artikel ini pun kemudian dicabut dan penulisnya mendapatkan sanksi pencabutan izin praktik kedokteran karenanya.

Walaupun sudah terbukti jika penelitian Andrew Wakefield tidak dapat dibuktikan keabsahannya, kaum anti-vaksin telah menjamur di berbagai belahan dunia. Mereka menyoroti komponen vaksin yaitu timerosal dan merkuri sebagai komponen yang berbahaya dan terkandung dalam vaksin. Faktanya, setelah diteliti lebih lanjut kedua komponen tersebut dinyatakan aman dan terbukti tidak menyebabkan autisme. Namun hingga hari ini masih banyak masyarakat yang mengira bahwa vaksin berhubungan dengan autisme, walaupun berbagai penelitian lain menyatakan sebaliknya.

 

3. Vaksin menyebabkan penyakit autoimun

Kabar bahwa vaksin mencetuskan penyakit autoimun telah diperdebatkan sejak lama. Walaupun penyebab dari penyakit autoimun belum jelas, beberapa faktor seperti genetik, lingkungan dan penyakit infeksi, dapat berpengaruh pada kemunculan penyakit autoimun.

Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi (KIPI), seperti demam tinggi, kejang, hingga lumpuh oleh masyarakat awam seringkali dianggap sebagai efek dari imunisasi. Padahal, untuk memastikan hubungan antara pemberian imunisasi dengan KIPI diperlukan pelaporan dan pemantauan yang komprehensif. Seringkali masyarakat tidak memahami kasus yang sebenarnya dan membuat kesimpulan sendiri.

 

4. Vaksin Tidak Boleh Diberikan pada Wanita Hamil

Faktanya, justru dua vaksin yang direkomendasikan untuk wanita hamil, yakni Tdap (tetanus, difteri, dan pertussis) dan influenza. Kedua penyakit ini memiliki risiko penularan dengan konsekuensi yang serius pada janin dan dapat dicegah dengan imunisasi. Di Indonesia sendiri, program vaksin tetanus pada ibu hamil telah menjadi program nasional dan dapat dijangkau dengan cuma-cuma  di Puskesmas terdekat.

Memang, vaksin berisi virus yang dilemahkan seperti vaksin cacar (varicella zoster) dan MMR tidak direkomendasikan pada 1 bulan sebelum dan selama kehamilan, dikarenakan potensi penularan virus tersebut pada janin. Walaupun telah ada penelitian yang menyebutkan pemberian vaksin virus hidup pada wanita hamil tidak menyebabkan penularan pada janin, wanita hamil tetap menjadi kontraindikasi pemberian vaksin virus hidup.

 

5. Vaksin  Haram karena Mengandung Babi

Masih banyak masyarakat awam yang percaya bahwa vaksin mengandung babi, dan haram untuk umat muslim. Faktanya, vaksin tidak mengandung babi.

Pada pembuatan vaksin, khususnya vaksin polio, enzim tripsin babi memang digunakan. Namun, perlu diingat bahwa tidak semua vaksin menggunakan enzim ini, dan enzim ini harus dibersihkan dan dihilangkan sehingga tidak mengganggu tahapan produksi vaksin selanjutnya. Vaksin yang disuntikkan di masyarakat telah dilakukan proses pemurnian dan penyaringan yang mencapai pengenceran hingga 1/67.5 milyar kali. Hingga pada proses akhir, sama sekali tidak ada bahan yang mengandung ataupun bersinggungan dengan enzim babi tersebut.

Majelis Ulama Indonesia (MUI) juga telah mengeluarkan fatwa pada tahun 2016 yang menyatakan bahwa imunisasi pada dasarnya diperbolehkan (mubah) sebagai bentuk usaha untuk mencegah terjadinya penyakit.

 

Sangat disayangkan, jika di era modern ini masih ada masyarakat yang menolak untuk memberikan vaksin pada keluarganya hanya karena ketidaktahuan dan kesalahan informasi. Oleh karena itu, pada Pekan Imunisasi Dunia kali ini GHI mengajak teman-teman semua untuk melindungi kerabat dan keluarga dengan memberikan imunisasi. Dengan imunisasi, kita dapat memberikan masa depan yang sehat untuk generasi mendatang. #VaccinesWork

 

Referensi:

Medscape  

WHO: Does polio Exist? 

Kompas 3 Oktober 2018, Banyak Anak Tak Divaksin, Wabah Penyakit Mengintai 

Ikatan Dokter Anak Indonesia: Apakah Vaksin Mengandung Babi?

Fatwa MUI

This Post Has One Comment

Leave a Reply

Close Menu