Makanan Tambahan Bayi: Haruskah Segera Diberikan?

Spread the love

Pada pertengahan tahun 2017, masyarakat Indonesia dikejutkan dengan foto pada akun social media Instagram  salah seorang penyanyi yang memberi makanan padat terhadap anak bayinya yang baru berusia lima bulan. Dari beberapa tanggapan terkait foto tersebut, timbul pro & kontra terhadap tindakan yang dilakukan oleh public figure tersebut dengan metode yang dikenal sebagai Baby Led Weaning (BLW).

Metode BLW merupakan metode alternatif dalam pemberian makanan pendamping ASI (MPASI) yang membiarkan bayi memilih dan makan makanan padat sendiri dengan tangannya. Metode ini dikembangkan Gill Rapley lewat bukunya yang berjudul Baby-led Weaning: Helping Your Baby to Love Good Food pada tahun 2008. Berdasarkan metode ini, memperkenalkan MPASI lewat makanan berbentuk bubur tidak dilakukan melainkan langsung menggunakan makanan berbentuk padat seperti bubur yang disuapi oleh orangtuanya  atau tanpa bantuan sendok.

Metode ini tidak memiliki hasil penelitian dalam skala besar yang hanya dilakukan lewat studi observasional dalam kelompk-kelompok kecil. Sehingga langsung mendapat tanggapan dari sejumlah ahli khususnya dari dokter spesialis Anak. Berdasarkan panduan dari World Health Organization (WHO) dan Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) pada usia enam bulan pertama kehidupan seorang anak, ASI saja cukup untuk memenuhi kebutuhan nutrisi bagi si buah hati. Pemberian MPASI tidak hanya untuk memenuhi kebutuhan ASI  melainkan juga dapat menjadi momen untuk melatih keterampilan dan kebiasaan makan yang sehat.

MPASI dapat mulai diberikan jika bayi sudah menunjukkan tanda-tanda seperti; kepala sudah tegak duduk, duduk dengan bantuan, tertarik melihat orang makan, bayi mencoba meraih makanan, refleks menjulurkan lidah berkurang, dan membuka mulut jika disodori makanan karena pada tahap ini seorang bayi sudah berada pada pertengahan fase oral perkembangan anak. Jenis makanan yang diberikan harus mencukupi kebutuhan karbohidrat, lemak, protein, vitamin dan mineral bagi bayi karena kandungan zat-zat tersebut  pada ASI sudah tidak dapat terkejar lagi bagi kebutuhan bayi.

Pada periode emas bagi seorang bayi untuk belajar mengunyah dan menelan makanan, orangtua tidak perlu khawatir dalam melatih seorang anak mengolah makanan lunak. Justru MPASI perlu dilakukan agar anak terhindar dari gangguan kemampuan makan. Dalam melakukan aktivitas tersebut, Pemberian MPASI buatan sendiri di rumah ataupun komersial yang sekarang ini telah menjadi trend sudah tidak perlu dikhawatirkan lagi karena kebutuhan akan zat-zat yang bermanfaat bagi tubuh bayi semakin hari akan semakin tinggi, sehingga orang tua dapat memberikan MPASI pada kondisi yang dapat disesuaikan. Keberagaman pangan yang diberikan akan semakin memperkaya pengalaman dan proses pembelajaran dalam pengenalan makanan baru bagi anak selanjutnya.

GHI berharap bahwa kedepannya masyarakat Indonesia terutama bagi para orang tua yang memiliki bayi atau bahkan orang tua yang akan segera merawat seorang bayi agar dapat mengetahui serta memahami pola asuh anak yang baik berdasarkan anjuran dari ahli kesehatan anak sehingga dapat merawat anak-anak generasi penerus bangsa yang sehat  dan dapat bertumbuh dengan baik sesuai masa usianya.

 

Referensi :

  1. http://www.idai.or.id/artikel/klinik/pengasuhan-anak/apakah-makanan-pendamping-asi-mpasi-komersil-berbahaya-buat-bayi
  2. http://www.idai.or.id/artikel/klinik/pengasuhan-anak/memberi-makan-pada-bayi-kapan-apa-dan-bagaimana
  3. http://www.who.int/nutrition/publications/guiding_principles_compfeeding_breastfed.pdf
  4. https://lifestyle.kompas.com/read/2017/09/04/204744420/dokter-tak-sarankan-metode-blw-untuk-pemberian-makan-pada-bayi

Leave a Reply

Close Menu