MAD-SOS: Is social media messing with your mental health?

MAD-SOS: Is social media messing with your mental health?

Spread the love

Article by: Anne Afriliani, Ghea Nursyifa

Hi #GlobalHealthWarriors! Kabar baik untuk kita semua kali ini adalah Mental Health Working Group GHI, yaitu Psycholight, akan mengadakan Kopdar ketiga di Kota Bandung dengan tema Media Sosial.

Kenapa media sosial? Tema tersebut kami angkat karena seperti yang kita rasakan saat ini, di era yang serba cepat dan praktis, apa-apa tinggal klik, media sosial merupakan hal yang lazim digunakan oleh pengguna gawai, tidak peduli berapa pun umurnya.

Memang dengan keberadaan media sosial ini, komunikasi serta informasi sangat mudah didapat tanpa batas ruang dan waktu. Betapa mudahnya mengakses berbagai hal termasuk mengetahui kehidupan pribadi seseorang hanya melalui satu gambar dan caption. Terkadang apabila pengguna kurang bijak dalam menggunakan media social, terjadi information overload, yaitu keadaan saat informasi yang kita dapatkan tidak sesuai dengan yang dibutuhkan, terlalu banyak informasi yang masuk tapi seringkali superfisial. Akibatnya, terjadi misinterpretasi terhadap suatu informasi hingga terbentuk hoax.

Selain itu, hal yang jarang kita sadari adalah selain berpengaruh terhadap kesehatan fisik, seperti terjadinya Computer Vision Syndrome, bahwa ternyata penggunaan media sosial juga dapat berdampak terhadap kesehatan mental seperti kecemasan atau gelisah berlebih hingga depresi. Untuk itu, diperlukan pemahaman masyarakat mengenai isu media sosial yang “merajalela” saat ini.

Perasaan gelisah berlebih dapat mengarah pada gangguan mental yang disebut fear of missing out (FOMO). Istilah ini baru ditambahkan ke dalam kamus Oxford tiga tahun lalu. FOMO merupakan perasaan gelisah karena melewatkan peristiwa yang sedang tren di tempat lain.

Media sosial memang membantu kita merasa lebih terhubung dengan orang lain, tetapi kebiasaan bersosial media yang kurang bijak seperti seringnya kita scroll feed di saat kita memiliki sedikit waktu, merupakan kebiasaan yang tidak baik untuk psikologis kita.

Getting addicted, atau kecanduan merupakan istilah yang bisa kita gunakan pada pengguna yang tidak bisa lepas dari media sosial. Berbagai macam informasi, berita, serta hiburan, dan pengaruh dari tren yang ada saat ini membuat kebanyakan orang terjerumus untuk tidak ingin merasa “tertinggal” akan hal-hal tersebut.

Salah satu contohnya adalah pengaruh sosial media dalam pemberitaan terkini mengenai suatu masalah atau isu. Secara otomatis ketika kita berhadapan dengan situasi tersebut, kita ingin sekali ikut membahas dengan perasaan tidak ingin “takut ketinggalan” dalam hal-hal yang dianggap penting oleh mereka.

Social media envy atau kecemburuan sosial media juga merupakan hal yang sangat sering terjadi dan dialami kebanyakan orang saat ini. Banyak dari kita jatuh ke dalam perangkap untuk membandingkan diri kita dengan orang lain saat kita membaca atau melihat unggahan orang lain, kemudian membuat penilaian tentang diri kita. Respons emosional kita terhadap unggahan-unggahan tersebut bisa begitu kuat sehingga dapat mengalahkan logika kita karena kenyataannya adalah orang terus-menerus menampilkan aspek terbaik dari kehidupan mereka ke media sosial hal itu karena mereka ingin menunjukkan penilaian yang baik bagi orang yang melihatnya.

Satu hal lagi yang menjadi perhatian GHI adalah cyberbullying yang sedang marak terjadi belakangan ini. Kuatnya pengaruh media sosial dan banyaknya pengguna saat ini membuat netizen lebih kritis dengan pemikiran dan argumen-argumen mereka dalam berkomentar.

Cyberbullying merupakan perilaku kekerasan nonfisik yang dilakukan berulang menggunakan internet atau media sosial membuat targetnya sulit untuk membela diri. Cyberbullying dapat membuat seseorang merasa dipermalukan, kepercayaan diri turun atau melemah, depresi, prestasi yang menurun, kekecewaan berlebih, dan lain-lain.

Hal yang harus diperhatikan adalah 93% dari remaja menggunakan internet setiap harinya sehingga potensial untuk terjadinya cyberbullying sangat tinggi. Anonymity (membuat identitas kita tidak dapat diketahui oleh orang lain) dalam hal ini membuat setiap orang dapat mengirimkan pesan atau mengomentari sesuatu di sosial media secara luas dan sembarangan tanpa etika dan aturan.

Globular HI berharap dengan adanya diskusi Kopdar kali ini, masyarakat dapat memanfaatkan dan menggunakan media sosial dengan bijak. Tidak berlebihan menggunakan media sosial, mengarahkan media sosial pribadi pada hal yang benar-benar penting dan bermanfaat, dan gantikan waktu yang biasa terbuang untuk scroll feed media sosial kita dengan aktivitas tatap muka bersama keluarga dan teman serta letakkan gawai kita saat bersama orang lain.

Register yourself [Name – Phone number – Email] for this month’s Kopdar to:

LINE: @bdh4002j or

Email: globular.hi@gmail.com

Further readings:

  1. Computer Vision Syndrome. Althea Medical Journal. 2016. http://journal.fk.unpad.ac.id/ index.php/amj/article/viewFile/789/734
  2. Cyberbullying, School Bullying, and Psychological Distress: A Regional Census of High School Students. American Journal of Public Health. 2012. https://www.ncbi.nlm.nih.gov/ pmc/articles/PMC3490574/
  3. Getting Over Your Fear of Missing Out. https://www.nirandfar.com/2015/01/fomo.html
  4. Researching Mental Health Disorders in the Era of Social Media: Systematic Review. 2017. https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC5509952/
  5. Teens Are Crippled By Social Media-Fueled FOMO. http://www.vocativ.com/329926/teen-social-media-fomo/index.html.
  6. The Dangers of Sosial Media on Your Mental Health. https://www2.viu.ca/humanresources/ documents/DangersofSocialMediaonYourMentalHealthQ12017.pdf

Leave a Reply

Close Menu