Kopdar Psycholight #2: MAD-SOS

Kopdar Psycholight #2: MAD-SOS

Spread the love

Notulen: dr. Rahmaniati

Halo Mental health warrior! Psycholight mengadakan kopdar ke-2 dengan tema media sosial pada bulan November 2017. Judul yang diberikan untuk tema kali ini yaitu “MAD-SOS: Is social media messing with your mental health?”. Isu ini diangkat sebagai bentuk kepedulian Psycholight terhadap masyarakat khususnya remaja dan dewasa muda untuk menyadari seberapa besar ‘kecanduan’ media sosial yang sudah dialami dan diharapkan dapat bersama-sama mendiskusikan solusi untuk bisa bersikap bijak dalam menggunakan media sosial.

Siapa sih pengguna smartphone yang tidak familiar dengan twitter, facebook, instagram, you tube dan sebagainya? Berdasarkan data yang dituturkan narasumber kami, dr. Ghea Nursyifa menyatakan bahwa terdapat 500 juta tweet yang dikirim setiap hari, 300 juta foto diunggah di Facebook setiap hari, lebih dari 80 juta foto di unggah di instagram setiap hari dan 300 jam video diunggah di you tube setiap menit. Wow, bukan merupakan angka yang sedikit ya.

Informasi yang didapatkan oleh seorang pengguna media sosial menyebabkan seseorang mengalami yang namanya Information Overload. Akibat terlalu banyaknya informasi yang diterima oleh seorang pengguna media sosial ditambah dengan tingkat literasi masyarakat Indonesia yang sangat rendah  menyebabkan seseorang hanya mengetahui sebuah informasi secara superfisial saja tanpa keinginan untuk mengkroscek kebenaran informasi tersebut. Dengan kecepatan media sosial, informasi yang masing simpang siur kebenarannya dengan mudah tersebar luas dan berakhir menjadi berita hoaks.    

Fear of Missing Out atau FoMO menjadi istilah baru dalam kamus Oxford sejak tiga tahun lalu yang memiliki arti sebagai perasaan gelisah yang timbul akibat seseorang takut ketinggalan berita di media sosial dan dikatakan tidak hits atau dianggap bukan anak zaman now. Adanya FoMO ini mendorong seorang pengguna media sosial menjadi kecanduan. Jumlah followers, like ataupun comment yang banyak, keharusan mengunggah foto atau mengunjungi tempat-tempat hits mendominasi waktu seseorang dengan FOMO.

Prahariezka Arfienda, seorang Tech & startup Blogger yang juga menjadi narasumber kopdar kali ini mengatakan bahwa seseorang dengan FOMO tanpa sadar akan membandingkan dirinya dengan figur yang mereka anggap pantas untuk dibandingkan, mereka akan berusaha menyamainya. Tidak jarang FOMO dan rasa kecanduan media sosial menjadikan seseorang terjebak dalam dunia yang tidak realistik dengan kehidupan yang sebenarnya dijalani. Mereka akan selalu berusaha menunjukkan the best version-nya mereka di dalam akun media sosial miliknya demi respon di media sosial tersebut. Sebagai contoh, seseorang menggunakan pakaian olahraga di pagi hari, mendokumentasikan hal tersebut dan mengunggah foto tersebut di akun dengan caption yang disusun sedemikian rupa. Bukannya berolahraga, seseorang dapat kembali ke tempat tidur untuk menunggu respon media sosial yang diinginkan. (link video: https://www.youtube.com/watch?v=GXdVPLj_pIk)  

Kecanduan media sosial sangat dapat mengakibatkan seseorang menjadi depresi karena respon di media sosial tidak sesuai dengan apa yang diharapkan. Pengguna media sosial juga secara tidak sadar membahayakan diri mereka dengan mengunggah kegiatan sehari-hari mereka (waktu, dan tempat dipublikasikan) sehingga mengundang orang-orang yang berniat jahat.

Selain itu, salah satu dampak negatif media sosial yaitu cyber bullying. Salah satu bentuk penyalahgunaan media sosial yang sedang marak terjadi. Orang-orang senang berkomentar bahkan tidak jarang menggunakan nama alias atau bahkan anonim. Padahal dampak yang dirasakan paling besar adalah oleh objek cyber bullying itu sendiri. Tidak semua sasaran cyber bullying dapat bersikap bijak menanggapinya, ada juga yang bahkan sampai kehilangan kepercayaan diri dan mengakhiri hidupnya. Atas dasar prevalensi dan bahaya dari cyber bullying, Pemerintah Indonesia bahkan sampai membuat peraturan mengenai cyber bullying dalam UU ITE.     

Pada sesi diskusi, mayoritas peserta Kopdar mengatakan pernah mengalami ‘kecanduan’ akan media sosial. Kang Robi bersedia membagikan pengalaman kecanduan media sosialnya ketika sering untuk mengunggah kegiatan sehari-harinya dan memiliki kebiasaan untuk melihat jumlah viewers media sosialnya serta memiliki kebiasaan untuk melihat kegiatan orang lain di media sosial. Hal tersebut membuatnya menjadi malas untuk bertatap muka dengan teman-temannya dan menjadi sangat tidak produktif. Namun tidak dipungkiri manfaat dari media sosial seperti yang dirasakan oleh Kak Desi ketika menghubungi dosen yang aktif di media sosial dibandingkan dengan dosen yang tidak aktif di media sosial.  

Berkaitan dengan cyber bullying, Adam berpendapat bahwa merasa definisi merasa di-buli atau tidaknya dikembalikan kepada seseorang yang dijadikan sasaran. Dalam keseharian pun, buli-membuli diantara teman dianggap ‘biasa’. Padahal kita tidak akan pernah tau, kapan seseorang yang dijadikan sasaran merasa bahwa dirinya dibuli dan pengalaman tersebut akan menjadi pengalaman yang tidak mengenakkan dalam kehidupannya. Jadi berhentilah untuk melakukan pembulian. Meskipun terkadang memang dianggap biasa, tetapi tidak ada salahnya untuk berhenti membiasakan sesuatu yang tidak baik.

Sebagai akhir dari diskusi, disimpulkanlah beberapa tips untuk tidak menjadi kecanduan terhadap media sosial. Berhentilah untuk membuat orang di media sosial terkesan terhadap kita, just live you real life, dan gunakan media sosial sebagai pendukung aktivitas nyata-mu. Berhentilah untuk membandingkan dirimu sendiri dan cintailah dirimu sendiri. Ketika kita merasa sudah mulai kecanduan akan media sosial, atau ketika ada seorang teman yang mengingatkan kita akan kebiasaan kita dalam bermedia sosial luaskanlah hati untuk melakukan instrospeksi dan menerima jika memang benar kita sudah kecanduan akan media sosial, dan mintalah support system di sekitarmu untuk membuatmu keluar dari rasa kecanduan bermedia sosial. Keluarlah dari zona nyaman dan ikutilah aktivitas-aktivitas yang berdampak positif bagi kehidupanmu di depan nanti.

Ternyata disadari atau tidak sudah sejauh ini media sosial menjadi adiksi tersendiri dalam kehidupan kita. Dengan segala kelebihan dan kekurangan yang dimiliki oleh media sosial, semoga dengan Kopdar kali ini dapat bermanfaat dalam . Yuk, mari bijak dalam bersosial media! Kira-kira, tema apa yang untuk Psycholight angkat di kopdar berikutnya? Kami tunggu komentarnya ya ☺

Leave a Reply

Close Menu