Kopdar Kids & Gadget: Development or Disaster?

Spread the love

Halo Global Health Warriors! Pada tanggal 28 Juli 2018, Pediatric Health Working Group telah mengadakan kopdar pertamanya di Kota Bandung dengan tema “Kids & Gadget: Development or Disaster?”. Munculnya tema ini dilatarbelakangi oleh fenomena tingginya angka pemakaian gadget, khususnya pada generasi Z.

Pada kopdar ini, kami menghadirkan narasumber yang merupakan sarjana psikologi dan saat ini sedang menempuh pendidikan Magister Psikologi Klinis Anak di Universitas Padjajaran Bandung. Beliau adalah Atika Saraswati, S.Psi.

Atika Sarasawati, S.Psi menyatakan bahwa generasi Z memiliki keterlibatan terhadap internet yang lebih banyak dibandingkan generasi lainnya, cenderung lebih minim dalam bersosialisasi, dan lebih multitasking. Survey APJII (Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia) 2017 menyebutkan bahwa 54,68% penduduk Indonesia menggunakan internet dan usia yang paling banyak menggunakan internet adalah 13-18 tahun (75,50%).

Pengaruh gadget dan karakteristik perkembangan anak terbagi dalam beberapa tahapan usia, antara lain:

 

  • Tahapan Infancy (0-24 bulan)

 

Dalam tahapan ini perlu dibangun kelekatan yang aman dengan caregiver dan milestone perkembangan perlu dipenuhi, maka sebaiknya anak tidak berkontak langsung dengan gadget. Adapun pengaruh negatif gadget terhadap anak yang berada dalam tahapan ini adalah terjadinya keterlambatan perkembangan akibat minimnya stimulasi yang diberikan orang tua kepada anak dan dapat terjadi permasalahan relasi antara orang tua dan anak.

 

  • Tahapan Childhood (3-5 tahun)

 

Dalam tahapan ini, anak biasanya cenderung mengeksplorasi lingungan. Karakteristik anak yang berada dalam tahapan ini yaitu belum bisa mengambil sudut pandang orang lain, imajinatif, memiliki keingintahuan yang besar, dan sedang mengembangkan kemampuan bahasa. Pengaruh negatif yang terjadi jika anak dalam tahapan ini berinteraksi dengan gadget adalah menampilkan sedentary behavior, dapat terjadi kelebihan berat badan dan obesitas, serta kurangnya waktu tidur anak karena cahaya sian pada layar dapat membuat kita lebih terjaga. Efek dari kurangnya waktu tidur dapat memunculkan externalizing behavior, seperti mudah marah, tantrum, dan sebagainya.

 

  • Tahapan Middle & Late Childhood (6 tahun-pubertas)

 

Pada tahapan ini, anak perlu mengembangkan pengetahuan dan keterampilan dalam aspek akademik. Karakteristik anak yang berada dalam tahapan ini yaitu biasanya belajar dari objek dan peristiwa yang konkrit, mampu melakukan klasfikasi, dan mulai mengembangkan perspective taking. Pengaruh negatif gadget terhadap anak dalam tahapan ini yaitu dapat mengakibatkan game addiction. Seorang anak dikatakan mengalami game addiction jika penggunaan game selama 8-10/hari atau 30 jam/minggu. Dampak yang timbul dari hal ini adalah tidak produktif, muncul masalah kesehatan, masalah akademik, dan masalah sosial.

 

  • Tahapan Adolesence (pubertas-18 tahun)

 

Karakteristik anak dalam tahapan ini antara lain sedang proses menemukan jati diri, mengembangkan kemampuan berpikir yang lebih abstrak, moody, adolescence egocetrism, sangat mengutamakan peer, dan mulai tertarik dengan lawan jenis. Pengaruh negatif gadget dalam tahapan ini yaitu sexting dan akses pornografi, cyberbullying, dan efek negatif media sosial seperti Fear of Missing Out (FOMO), mudah terprovokasi hoax, dan negative body image.

Tak hanya menimbulkan pengaruh negatif, gadget juga dapat menimbulkan pengaruh positif bagi anak jika digunakan dengan tepat seperti sebagai media komunikasi yang efektif dan efisien, memudahkan untuk mencari informasi, memudahkan dalam mencari pemecahan masalah, sarana penyaluran aspirasi, sarana hiburan, dan sarana pemasukan.

Lalu, bagaimana cara pemberian gadget yang tepat terhadap anak? Menurut narasumber, hal yang bisa kita lakukan adalah:

  1. Berikan contoh perilaku penggunaan gadget yang baik
  2. Berikan gadget untuk kebaikan anak, bukan untuk kemudahan caregiver
  3. Berikan pendampingan dan pengawasan (screen time recommendation), misalnya menggunakan aplikasi pengawasan gadget. Adapun screen time recommendation berdasarkan usia, antara lain:
  • Di bawah 18 bulan: hindari penggunaan gadget
  • 18-24 bulan: boleh menggunakan gadget, asalkan dengan pengawasan (misalnya video call)
  • 3-5 tahun: 1 jam sehari
  • 6-12 tahun: 2 jam sehari
  • 13-18 tahun: 2 jam sehari

Sesi diskusi dibuka dengan pengalaman salah satu peserta yang memiliki keponakan kembar berusia 3 tahun dengan kondisi kedua orang tua bekerja. Jika sang anak ingin bermain gadget, orang tuanya tersebut langsung memberikan gadgetnya begitu saja sampai anak tidur larut malam. Bagaimana cara kita memberi tahu orang tua anak tersebut untuk membatasi penggunaan gadget pada anak? Beberapa peserta berpendapat bahwa untuk membatasi penggunaan gadget pada anak perlu dimulai dengan mengkomunikasikan hal tersebut kepada orang tuanya. Narasumber menambahkan jika hal tersebut sulit untuk dilakukan, kita bisa langsung mengkomunikasikannya kepada anak, misalnya dengan memperlihatkan permainan di Youtube lalu kita ajak anak bermain dalam bentuk konkrit.

Ada juga salah satu peserta yang memiliki pengalaman yaitu bertemu dengan seorang anak yang kondisinya mengalami perut kembung tapi tetap bermain gadget sehingga tidurnya menjadi larut malam. Kemudian ia mencoba untuk memberikan sentuhan/pijatan lembut di sekitar punggung dan perut anak tersebut. Hasilnya, sang anak langsung diam dan saat itu dapat lepas dari gadget. Jika dilakukan oleh orang lain saja dapat berpengaruh, apalagi jika oleh orang tuanya.

Seorang peserta yang lain juga berpendapat bahwa jika seorang anak bermain gadget, kita perlu perhatikan apakah itu salah satu caranya mencari perhatian atau bukan.

Narasumber juga berbagi pengalamannya yang bertemu dengan seorang remaja berusia 15 tahun yang memiliki masalah penggunaan gadget yaitu berlebihan menjadi fangirling sehingga mengganggu aktivitas sehari-hari. Saat itu, ia memberikan saran kepada orang tuanya untuk lebih memperkuat relasi antara orang tua dan anak serta mengajak anak ngobrol santai mengenai apa yang menjadi kesukaannya.

Sebagai penutup dalam kopdar ini, narasumber menyampaikan bahwa kita perlu tahu bagaimana cara mengawasi atau mendampingi anak dalam penggunaan gadget. Juga, banyak sekali PR mengenai gadget yang jika kita pikirkan terus menerus akan selalu bertambah. Hal yang bisa kita lakukan saat ini adalah janganlah hanya menuntut orang tua saja mengenai penggunaan gadget pada anak, tapi kita sebagai caregiver (kakak, tante, atau om) perlu juga untuk ikut mengawasi penggunaan gadget pada anak.

Leave a Reply

Close Menu