Kopdar GHI: Ears for Suicide Talk

Spread the love

Wilujeng Sonten!

Kopdar kali ini dilaksanakan oleh Mental Health Working Group GHI, yaitu Psycholight, di kota Bandung. Pada Juli 2017 Psycholight resmi menjadi Working Group pertama GHI, yakni dalam isu Mental Health, sekelompok anak muda ini menamakan dirinya Psycholight, dengan harapan dapat memberikan pencerahan atau pengetahuan mengenai kesehatan jiwa (psikiatri) secara global, kepada anak muda maupun masyarakat umum Bandung.

Kegiatan pertama yang dilakukan oleh Psycholight adalah Kopdar, kali ini mengangkat tema Suicide. Kami mengangkat isu Suicide karena isu ini sedang berkembang di masyarakat dan perlunya pemahaman masyarakat mengenai hal ini.

Kopdar kali ini kami beri judul “Ears for suicide talk” untuk menekankan pentingnya mendengarkan orang yang mempunyai keinginan untuk bunuh diri. Seperti yang sudah dijelaskan oleh narasumber kami, Dr. Rahmaniati, terdapat tanda-tanda bahaya bunuh diri yang dapat kita ketahui. Sebagai bagian dari masyarakat, ketika teman kita ada yang menunjukkan tanda-tanda ini, kita dapat berperan sebagai “telinga” bagi mereka. Menurut data yang dipaparkan oleh Dr. Rahma, 90% orang yang memiliki keinginan bunuh diri adalah orang yang mempunyai gangguan jiwa yang mendasari keinginan tersebut.

Penting untuk diketahui bahwa tidak ada penyebab tunggal mengapa seseorang memutuskan untuk bunuh diri. Depresi adalah salah satu kondisi yang dihubungkan dengan keputusan seseorang untuk bunuh diri, dan depresi ini sering tidak terdeteksi dan tidak tertangani.

Pada sesi diskusi, seorang peserta menceritakan pengalaman pribadinya bahwa ada anggota keluarganya yang sudah lanjut usia, mengalami stroke kemudian sejak itu jadi mulai sering marah terhadap semua orang, emosi menjadi labil dan pernah mengancam akan bunuh diri. Kemudian Pak Reza dari Yayasan Sehat Mental Indonesia menambahkan pengalamannya membantu psikiater dalam penanganan pasien. Beliau menegaskan pentingnya antara dokter spesialis lain dan psikiater saling berkomunikasi dan menangani pasien sesuai kompetensi masing-masing.

Kami sangat apresiasi juga untuk sharing dari Mas Aji sebagai peserta yang memberanikan diri untuk sharing pengalamannya pribadi dengan suicidal thought. Menceritakan bagaimana perasaannya saat itu dan lingkungannya yang membuatnya sulit untuk mengkomunikasikan masalah ini, Aji merasa sangat beruntung mempunyai teman yang kuliah di jurusan psikologi, mau mendengarkan, mendampingi Aji sehingga dijauhkan dari pikiran untuk bunuh diri tersebut.

Ini sangat menggambarkan tujuan GHI mengadakan Kopdar dengan tagline “1 willingness + 1 ear = 2 save a life”. Kami ingin setiap bagian dari masyarakat berpartisipasi dalam menormalkan stigma terhadap penyakit jiwa, sama seperti penyakit fisik. Jika setiap kita mempunyai kemauan untuk mendengar, siapa tahu kita bisa menyelamatkan satu nyawa, seperti yang dilakukan oleh teman Mas Aji.

Diskusi Kopdar kemarin memberikan banyak perspektif yang menarik, sharing dari Pak Reza tadi dari segi Yayasan, ada Mas Gema sebagai Ketua Komunitas Peduli Skizofrenia Indonesia (KPSI) yang membicarakan keadaan kesehatan jiwa di Bandung dan pentingnya kebijakan yang mendukung, Mbak Nian dari Into The Light yang memang spesifik bergerak dalam suicide prevention, dan Mario dari Atma Wimala.

Globular HI sangat bersyukur atas kedatangan teman-teman semua dan berdiskusi yang sangat membuka wawasan kita semua. Semoga ilmu kesehatan jiwa dalam tingkat global yang kami coba bagikan dapat bermanfaat dalam kehidupan kita bermasyarakat, terutama untuk kesehatan jiwa kota Bandung. Sampai jumpa di Kopdar Psycholight berikutnya!

This slideshow requires JavaScript.

Leave a Reply

Close Menu