Kopdar GHI: Cowsumption

Spread the love

Hi Global Health Warrior!

Pada hari Minggu, 25 November 2018 lalu, Environmental dan Food Sustainability Working Group dari GHI berkolaborasi dalam Kopdar “Cowsumption, is it useful or harmful?”. GHI membahas topik  seputar peningkatan konsumsi daging sapi dan dampaknya yang dilihat dari sudut pandang kesehatan masyarakat, lingkungan dan ketahanan pangan. Peningkatan jumlah populasi dan perubahan pola makan masyarakat yang berdampak terhadap peningkatan permintaan daging sapi secara global. Sayangnya, hal tersebut ternyata memiliki dampak tersendiri bagi lingkungan, kesehatan masyarakat, dan ketersediaan bahan pangan dunia.

  1. Dampak lingkungan

 

Sesi pertama dibawakan oleh dr.Aldy Setiawan Putra yang membahas mengenai dampak lingkungan dari peternakan sapi. Sebagai pembuka, dr.Aldy memaparkan bahwa hutan hujan sleuas 136 juta hektar Amazon, Brazil dihancurkan untuk digunakan sebagai lahan peternakan. Menteri Pertanian Republik Indonesia sendiri meminta pembukaan lahan hutan seluas 2 juta hektare untuk digunakan sebagai lahan pertanian. Hutan hujan merupakan elemen penting dalam menjaga keseimbangan lingkungan. Oleh karena itu, pembukaan lahan hutan tentunya akan berpengaruh terhadap keseimbangan lingkungan.

Selain penggunaan lahan, rupanya penggunaan air di peternakan sapi  juga terhitung berlebih dan berpengaruh terhadap ketersediaan air bersih. Dibutuhkan 15.455 liter air untuk memproduksi 1 kg daging sapi. Gas yang dihasilkan oleh sapi di peternakan, yaitu gas metana  (CH4) rupanya tergolong gas rumah kaca menjadi salah satu polutan bagi udara. Di sisi lain, pengolahan limbah peternakan yang kurang baik juga dapat menjadi polutan dan berbahaya bagi lingkungan karena mengandung mikroba dan residu antibiotik

  1. Dampak bagi kesehatan masyarakat

Tingginya permintaan daging sapi yang tidak sesuai dengan luas lahan yang tersedia membuat peternakan menjadi semakin padat. Akibatnya, hewan ternak dan kotorannya terkonsentrasi dalam satu tempat. Hal tersebut meningkatkan risiko terhadap penyakit infeksi. Peternak biasanya berusaha untuk mencegah terjadinya infeksi pada sapi dengan memberikan antibiotik kepada hewan ternaknya. Sayangnya, jika hal tersebut dilakukan tanpa pengawasan petugas dan mengikuti aturan penggunaan antibiotik yang sesuai, dapat menyebabkan mikroba yang terdapat dalam tubuh hewan ternak menjadi resisten terhadap antibiotik tertentu.

Saat ini resistensi antibiotik menjadi ancaman kesehatan masyarakat yang cukup menjadi perhatian dunia. Resistensi antibiotik menjadi penyebab kematian dari 700.000 jiwa dan diperkirakan akan meningkat menjadi 10 juta jiwa pada tahun 2050. Selain itu, resistensi antimikroba juga dapat menurunkan produksi bahan pangan sebesar 11% di tahun 2050. Menurunnya produksi bahan pangan dapat menjadi ancaman bagi kesehatan masyarakat karena dapat menyebabkan kurang gizi dan menurunkan daya tahan tubuh masyarakat terhadap penyakit infeksi lainnya.

  1. Kelaparan

Sebanyak 821 juta jiwa di dunia mengalami kekurangan bahan pangan dalam jangka waktu yang cukup lama. Data dari World Food Program menunjukkan jika Indonesia masih mengalami masalah kelaparan dengan 19,4 juta jiwa yang mengalami masalah ini. Hal tersebut tidak semestinya terjadi karena sebetulnya Bumi saat ini dapat menghasilkan makanan yang cukup untuk dikonsumsi oleh 10-11 juta jiwa. Namun, dari seluruh makanan yang dihasilkan, ternyata hanya 55% yang dikonsumsi oleh manusia. Sisanya, sebanyak 36% digunakan untuk pakan ternak dan 9% digunakan untuk bahan bakar dan prooduk industrial.

Sementara itu, dari total energi yang dikonsumsi hewan ternak dalam bentuk makanan tidak dapat menghasilkan jumlah energi yang sama untuk bisa dikonsumsi manusia. Dari setiap 100 kkal yang dikonsumsi oleh hewan ternak, hanya menghasilkan 40 kkal susu dan 3 kkal dalam bentuk daging sapi. Dapat disimpulkan bahwa perubahan bentuk energi tidak terjadi secara efisien. Begitu pula dengan penggunaan lahan yang digunakan untuk beternak sapi. Jika dibandingkan, 1 are lahan yang digunakan untuk menanam pohon kacang kedelai dapat menghasilkan protein sebanyak 166.000 gram. Jumlah tersebut cukup untuk memenuhi kebutuhan 3320 orang setiap harinya. Sedangkan, jika lahan dengan luas yang sama digunakan untuk mmproduksi daging sapi, total protein yang dihasilkan hanya sebanyak 9.000 gram untuk memenuhi kebutuhan 180 orang saja.

Untuk menangani masalah peningkatan konsumsi daging sapi dan dampaknya terhadap manusia serta lingkungan, ada beberapa solusi yang bisa dilakukan untuk mengatasi masalah ini, yaitu penerapan One Health dalam praktik dunia peternakan dan penerapan pedoman gizi seimbang menurut Kementerian Kesehatan. Konsep One Health yang menggabungkan prinsip kesehatan masyarakat, hewan dan lingkungan diharapkan dapat mengurangi dampak lingkungan dan kesehatan akibat praktik peternakan yang kurang baik. Selain itu, mempraktikkan pedoman gizi seimbang dan isi piringku dari Kementerian Kesehatan. Pedoman tersebut mengatur jumlah protein hewani yang harus dikonsumsi sesuai dengan kecukupan masyarakat Indonesia sehingga tidak terjadi konsumsi yang berlebih.

Selain presentasi dari pemateri tentang Cowsumption ini, sesi diskusi pada kopdar kali ini juga tidak kalah menarik. Terkait dengan penerapan One Health muncul pertanyaan tentang ketersediaan dokter hewan di setiap peternakan di Indonesia. Hal yang terjadi di realita adalah tidak semua peternak atau peternakan di Indonesia memiliki akses maupun kontak dengan dokter hewan. Dalam hal ini, dinas peternakan setempat memiliki peran penting untuk mengawasi setiap peternakan di wilayah kerjanya dan memfasilitasi mereka dalam hal pengetahuan menganai sanitasi higiene di peternakan dan penggunaaan antibiotik. Hal lain yang ditanyakan peserta kopdar adalah tentang tingkat urgensi tentang dampak peningkatan penggunaan antibiotik dan konsumsi daging sapi di Indonesia. Banyaknya peternak skala kecil yang masih menggunakan antibiotik tanpa pengawasan  ahli menjadi permasalahan tersediri. Oleh karena itu, dampak dari peningkatan konsumsi daging sapi di Indonesia lebih menitikberatkan pada isu resistensi antimikroba.

Sebelum mengakhiri kopdar ini, narasumber menggarisbawahi beberapa hal penting. Salah satunya mengenai bahaya cowsumption terhadap manusia, lingkungan, dan masalah lainnya yang perlu diperhatikan bagi seluruh pihak. Kolaborasi multi-disiplin juga sangat diperlukan untuk mencegah dampak buruk terhadap keseimbangan alam dan keselamatan manusia di masa depan. Semoga masalah Cowsumption ini dapat segera menemukan jalan keluar, sehingga manusia sebagai kunci pada rantai makanan ini, akan tetap bisa menjaga keseimbangan alam sekaligus terus bisa menikmati daging sapi sampai generasi-generasi selanjutnya.

 

Leave a Reply

Close Menu