KOPDAR GHI #3 “CLIMATE CHANGE & GLOBAL HEALTH: AIR POLLUTION”

KOPDAR GHI #3 “CLIMATE CHANGE & GLOBAL HEALTH: AIR POLLUTION”

Spread the love

Notulensi Kopdar GHI #3: Climate Change & Global Health

Hari Sabtu, 15 Juli 2017, GHI kembali mengadakan Kopdar dengan tema “Climate Change & Global Health”. GHI mengangkat tema ini karena seperti yang sudah dipaparkan dalam artikel Air Pollution, perubahan iklim, khususnya polusi udara sangat memengaruhi kesehatan manusia. Kopdar kali ini menghadirkan dua narasumber, yaitu Pak Bondan Andriyanu, Climate and Energy Campaigner dari Greenpeace Indonesia, dan Dr. Shela Putri Sundawa, seorang praktisi kesehatan.

Kopdar kali ini dimoderatori oleh Ivan Meidika Kurnia selaku Director of GHI. Sesi pertama dibuka dengan pemaparan oleh Pak Bondan mengenai realita batubara di Indonesia, bagaimana siklus kehidupan dan pemanfaatan batubara merupakan “energi kotor” dengan kandungan-kandungan bahan kimia yang sudah terbukti menyebabkan berbagai masalah kesehata, seperti black lung disease, bahkan menganggu perkembangan janin jika ibu yang sedang mengandung terus terpapar oleh polusi udara akibat batubara. Di saat batubara sudah mulai ditinggalkan di negara lain, program 35.000 MW Indonesia yang bertujuan memenuhi kebutuhan listrik dari Sabang sampai Merauke malah sebagian besar menggunakan batubara dengan alasan efektif dan murah.

Pak Bondan kemudian menyajikan data-data perhitungan bahwasanya health cost akibat batubara ini kira-kira setengah dari cost yang dikeluarkan untuk menggunakan batubara, sehingga apabila jumlah biaya yang harus dikeluarkan untuk mempertahankan industri batubara dengan catatan menghitung biaya kesehatan yang harus pemerintah rogoh, ternyata tidak tepat jika dikatakan batubara merupakan energi yang murah.

 

truecostofcoalSource: True cost of coal, Greenpeace.

 

Untuk isu spesifik di Jakarta, Pak Bondan menceritakan mengenai pengalamannya untuk mengadvokasikan alat pengukur kualitas udara hingga PM 2.5, dibandingkan dengan parameter sekarang yang hanya bisa mengukur hingga PM 10. Beliau menuturkan bahwa advokasinya ditolak bahwa alat yang digunakan oleh Greenpeace tidak valid, sehingga saat ini Greenpeace sedang mencari cara lain untuk mengadvokasikan perihal ini. Pak Bondan berharap, gerakan dari bawah seperti diskusi-diskusi (Kopdar) ini bisa mengumpulkan banyak pihak, termasuk komunitas, untuk kemudian memperkuat posisi advokasi ke pemerintah.

Sesi kedua oleh Dr. Shela dengan judul “How Terrible is Outdoor Air Pollution for Our Health?” menjelaskan lebih detail mengenai bagaimana mekanisme polutan-polutan udara yang disebutkan oleh Pak Bondan tadi benar-benar memengaruhi tubuh manusia. Dr. Shela menitikberatkan pada perkembangan janin dan bayi dengan data-data penelitian ilmiah. Salah satu fakta yang sangat disayangkan adalah bahwa bayi-bayi yang lahir dari ibu yang terpapar oleh polusi udara ini cenderung lahir premature dengan berat badan lahir rendah (BBLR), bahkan dengan lingkaran kepala yang lebih kecil. Akibatnya, IQ dan perkembangan anak juga terhambat.

carvas.png

Gambar 2. Mekanisme biologis hubungan PM dengan penyakit kardiovaskular.

Hal lain yang patut menjadi perhatian adalah bahwa ternyata, polutan udara akibat batubara (coal ash) lebih sensitif menyerang kelompok orang-orang yang lebih muda. Oleh sebab itu, hasil penelitian tersebut sejalan dengan penelitian mengenai gangguan pertumbuhan dan perkembangan bayi. Kelompok masyarakat yang mempunyai penyakit jantung juga harus berhati-hati terhadap polusi udara, karena polusi udara di perkotaan yang mayoritas disebabkan oleh polusi kendaraan bermotor, dapat menyebabkan adanya gangguan irama jantung (aritmia) walaupun sudah terpasang alat untuk menjaga irama jantung tersebut.

Hasil Diskusi

Diskusi yang terjadi berjalan dengan kondusif dan banyak sharing ide-ide maupun pandangan dari peserta Kopdar, serta perbandingan dengan negara-negara maju, contohnya Jepang, yang bahkan mengukur PM 2.5 dengan meletakkan alat pengukur kualitas udara di lampu-lampu merah. Berikut rangkuman hasil diskusi Kopdar GHI #3:

  • Pentingnya kolaborasi dan bergerak bersama mengenai Air Pollution jika ingin membawa perubahan.
  • Prioritas utama yang harus dikerjakan dalam isu Air Pollution adalah pengukuran kualitas udara yang valid karena menurut pengalaman Pak Bondan, tanpa data pergerakan tidak akan bisa berjalan.
  • Prevensi yang bisa kita lakukan sebagai individu yang sudah mengetahui hal ini dan tinggal di daerah perkotaan, yaitu dengan menggunakan masker N95. Walaupun saat ini harganya masih mahal, namun ini merupakan pencegahan yang terbaik, apalagi jika sering bepergian menggunakan motor. Masker yang biasa digunakan orang-orang dalam berkendara tidak bisa menyaring partikulat hingga PM 2.5

Sekian notulensi kegiatan Kopdar GHI #3: “Climate Change & Global Health: Air Pollution”. Sampai jumpa di Kopdar berikutnya!

Leave a Reply

Close Menu