Kopdar EMH: Managing waste around us, zero waste is possible

Spread the love

Hi, Global health warriors! Environmental Health Working Group (EMH) telah mengadakan kopdar pertamanya dengan tema “Managing waste around us, zero waste is possible” pada hari Sabtu, 26 Mei 2018 lalu.  EMH mengangkat tema ini karena dari segi kesehatan, sampah dapat menjadi sumber berbagai penyakit bila tidak dikelola dengan baik. Lebih lanjut mengenai pengelolaan sampah dapat dibaca pada artikel Hari Bumi.

Kopdar kali ini menghadirkan narasumber Pak Elanda Fikri, pengajar di Politeknik Kesehatan Kemenkes Bandung. Beliau adalah peraih penghargaan MURI sebagai Doktor Ilmu Lingkungan Termuda.

Kopdar GHI kali ini dimoderatori oleh salah satu anggota EMH, dr. Dita Ayu Larasati. Sesi kopdar dibuka dengan pemaparan oleh Pak Fikri mengenai realita bahwa kota – kota di seluruh dunia menghasilkan sekitar 1,3 miliar ton sampah per tahun dan volume ini diperkirakan akan meningkata menjadi 2,2 miliar ton pada tahun 2025.

KLHK RI: “Total sampah di Indonesia mencapai 64 juta ton pertahun. Sebanyak 14% adalah sampah plastik” (Sudirman, 2016).

Permasalahan pengelolaan sampah didasari oleh kurangnya pengetahuan masyarakat. Hal tersebut menimbulkan kesulitan dalam membedakan limbah dan sampah, dan memilah jenis-jenis sampah (organik, non-organik, guna ulang, daur ulang, dan B3).

Selain itu, terdapat pola pikir kumpul-angkut-buang-lupakan dalam mengelola sampah. Hal ini menjadi salah satu faktor penyebab permasalahan lingkungan. Masyarakat menganggap bahwa dengan membayar retribusi sampah, mereka tidak lagi memiliki tanggung jawab terhadap sampah rumah tangga yang dihasilkan. Akibatnya, terjadi penumpukan sampah di tempat pembuangan akhir (TPA) dan menjadi sumber penyakit. Meningkatnya volume sampah di TPA juga meningkatkan biaya pengelolaannya. Nyatanya, permasalahan pengelolaan sampah tidak hanya menjadi permasalahan lingkungan.

Pak Fikri juga mengemukakan bahwa masalah pengelolaan sampah juga timbul akibat sarana dan prasarana yang kurang memadai, terutama fasilitas daur ulang. Hingga saat ini, belum ada teknis pengelolaan sampah spesifik, seperti sampah pembalut wanita dan popok bayi bekas pakai yang tergolong ke dalam kelompok sampah yang bersifat bahan berbahaya dan beracun (B3). Sampah tersebut belum dikelola dengan cara yang sesuai sehingga berpotensi menjadi sumber penyakit bagi masyarakat. Padahal hal ini sudah diatur di dalam pasal 29 UU 18/2008 tentang pengelolaan sampah, yang menyebutkan setiap orang dilarang mencampur sampah dengan limbah B3.

Tidak hanya berhenti di situ, menumpuknya sampah di TPA memiliki dampak yang lebih terhadap lingkungan dan kesehatan masyarakat. Sampah organik di TPA merupakan salah satu penyumbang gas rumah kaca, yaitu gas metana yang dapat memicu terjadinya perubahan iklim. Sifat gas metana yang mudah meledak juga meningkatkan faktor risiko terhadap permasalahan lainnya. Sayangnya, belum ada dukungan terhadap pengelolaan dan pemanfaatan gas metana di TPA. Selain gas metana, timbulnya lindi (air sampah) akibat dari bercampurnya air hujan dengan residu sampah yang bersifat asam dan mengandung logam berat, turut menjadi penyebab pencemaran air dan tanah di lingkungan sekitar TPA.

Gambar 1. Sapi – sapi di TPA memakan sampah sebagai upaya pengurangan tumpukan sampah.

“Permasalahan sampah di Indonesia sangat kritis, dan mendesak untuk segera diselesaikan. Tantangan menjadi lebih besar lagi ketika Indonesia dikatakan sebagai negara dengan sampah di pantai dan di laut yang cukup besar . Oleh karena itu, membersihkan sampah menjadi kewajiban kita semua. Marilah kita merubah perilaku mengelola sampah kita untuk lebih baik dan bertanggung jawab.”

 

  • Ibu Siti Nurbaya, Menteri KLHK

 

Berdasarkan UU No.18 Tahun 2008, tujuan dari pengelolaan sampah adalah untuk meningkatkan kesehatan masyarakat, meningkatkan kualitas lingkungan, dan menjadikan sampah sebagai sumber daya. Salah satu konsep yang dapat mendukung tercapainya tujuan tersebut adalah konsep Zero waste management, yaitu suatu upaya dalam menihilkan jumlah sampah yang masuk kedalam ke TPA dengan mengintegrasikan prinsip Reduce, Reuse, Recycle (3R) hingga menuju kota berkelanjutan (sustainable city).

Penerapan zero waste management menitik beratkan pada pemanfaatan dan penggunaan kembali sumber daya alam secara berkelanjutan, sebuah filosofi yang mempromosikan pengelolaan daur hidup material sehingga semua produk dapat digunakan kembali. Penerapan konsep tersebut diharapkan dapat mengurangi volume sampah dan ketergantungan terhadap TPA, meningkatan efisiensi pengelolaan sampah perkotaan, serta tentu saja menciptakan peluang usaha bagi masyarakat dengan pendekatan Circular Economy.

Gambar 2. Konsep Pengelolaan Sampah (Zero Waste)

Dampak yang bisa di rasakan secara langsung melalui pengelolaan sampah dengan pendekatan zero waste management, antara lain menurunnya biaya pengelolaan sampah, menghasilkan kompos untuk bidang pertanian & gas metana yang bisa dimanfaatkan pada tingkat rumah tangga, serta meningkatnya pendapatan masayarakat dari hasil karya pemanfaatan sampah daur ulang. Selain itu, terdapat dampak yang secara tidak langsung dapat dirasakan oleh masyarakat, seperti lingkungan yang lebih bersih dan sehat, meningkatnya rasa tanggung jawab masyarakat dalam pengelolaan sampah, meningkatnya kepedulian masyarakat dan elemen lain di sekitarnya, serta membantu program pemerintah menuju Indonesia bebas sampah 2020.

Kesimpulan diskusi

 

  • Keberhasilan dalam pengelolaan sampah rumah tangga berbasis zero waste adalah pemilahan sampah dilanjutkan dengan sistem pengolahan secara terpadu.
  • Pemilahan sampah terbagi menjadi:
  • Organik: biogas dan kompos dengan pendapatan insentif dan penghijauan
  • Anorganik: daur ulang & recovery dengan memfokuskan pada peningkatan ekonomi
  • B3:  daur ulang dan Extended producer responsibility (EPR)
  • Residu: TPA dilengkapi insinerator dengan control emisi di tambah recycle abu menjadi briket dan bisa di gunakan untuk rumah tangga.

 

  • Dibutuhkan keterlibatan peran aspek sosial – budaya, yaitu agent of change sekaligus block leader di dalam lingkungan rumah yang menyebarluaskan informasi dan memotivasi anggota keluarga yang lain untuk melakukan pengelolaan sampah, terutama dalam pemilahan sampah.

Sekian pemaparan kegiatan Kopdar Globular HI, Environmental Health Working Group.Managing waste around us, zero waste is possible”.

Sampai jumpa di kopdar berikutnya.

Leave a Reply

Close Menu