Kopdar: Burnout Syndrome in Healthcare Professionals

Spread the love

Hi, Global Health Warrior!

Seberapa sering kamu mendengar istilah “Sindrom Burnout”? Akhir – akhir ini istilah dan ulasan Sindrom Burnout dapat dengan mudah kita temukan pada berbagai media. Burnout digambarkan sebagai bentuk kelelahan yang dialami, baik secara fisik, emosional, maupun mental yang berlebihan dan berkepanjangan. Sindrom ini dapat dialami oleh semua profesi, apapun bidangnya. Namun dalam berbagai penelitian didapatkan kecenderungan yang cukup tinggi pada profesi – profesi bidang pelayanan kesehatan.

Minggu, 24 Maret 2019 lalu, Mental Health Working Group – Globular Health Initiative mengadakan Kopdar dengan topik “Burnout Syndrome in Healthcare Professionals”. Diskusi yang dilakukan bersama dr. Theresia Citraningtyas, MWH, PhD, Sp.KJ ini lebih banyak membahas Sindrom Burnout pada praktisi kesehatan. Turut hadir teman – teman Globular dari berbagai latar belakang pendidikan dan pekerjaan, mahasiswa kedokteran, dokter spesialis, hingga wirausahawan.

Topik ini kami anggap penting untuk didiskusikan; berangkat dari sebuah pola yang berhubungan erat satu dengan yang lain, yaitu pengaruh Social Determinants of Health untuk mencapai tujuan dan target Sustainable Development Goal yang tidak terlepas dari peran penting praktisi kesehatan. Social Determinant of Health merupakan kondisi seseorang sejak ia dilahirkan, tumbuh, hidup, dan bekerja. Kondisi tersebut juga menentukan akses dan kualitas pelayanan kesehatan. SDoH sendiri dipengaruhi oleh banyak faktor krusial lainnya seperti ekonomi, kekuatan kebijakan, dan sumber daya pada level global, nasional maupun lokal untuk mencapai standart pelayanan kesehatan primer yang lebih baik.

Pengaruh kesejahteraan, kesehatan fisik dan mental praktisi kesehatan pada kinerja dan keselamatan pasien saat ini sedang menyita perhatian publik, medis maupun non-medis, walaupun sebenarnya konsep dari pengaruh Sindrom Burnout ini bukan temuan baru dalam dunia pelayanan kesehatan. Sindrom Burnout diperkenalkan pertama kali pada tahun 1980 oleh psikoanalis terkemuka Amerika Serikat yakni Freudenberger dan kini telah dirumuskan dalam International Classification Of Disease 10 pada kode diagnosis Z.73.0.

Praktisi yang berada pada garda terdepan pelayanan kesehatan, seperti departemen emergensi, layanan primer, cenderung mengalami tingkat stress yang tinggi karena selalu dihadapkan pada berbagai bentuk emosi; tekanan untuk menyelamatkan pasien, perasaan gagal dan frustasi dalam menangani perburukan kondisi pasien, berbangai penyakit yang berhubungan dengan kematian, kedukaan, pun juga kekhawatiran bila sewaktu – waktu dapat mengidap penyakit tertentu karena pekerjaannya. Selain karena stress pekerjaan, beberapa penelitian terkini menjelaskan adanya faktor lain yang berhubungan erat dengan Burnout, seperti permasalahan ekonomi, lingkungan perkerjaan yang kurang menukung dan berbagai permasalahan kehidupan sosial, hirearki – hubungan intrapersonal dalam lingkungan keluarga, kerja dan masyarakat. Tekanan juga datang dari regulasi yang mengatur profesinya, dan tanggung jawab administratif yang harus dipenuhi. Keadaan ini akan diperparah bila tidak adanya kemampuan untuk mengatasi masalah (coping skill) — sense of achievement dan emotional disengagement, keduanya dapat mencegah compassion fatigue atau secondary traumatic stress. Ketidakpastian dalam praktek klinis ini dapat membuat seseorang menolak atau menghindar dari pasien, meninggalkan pekerjaannya dan memiliki risiko tertinggi untuk mengidap Sindrom Burnout.

Lalu apakah Stres dan Sindrom Burnout merupakan hal yang sama?

Stres dan Sindrom Burnout berbeda. Sindrom Burnout adalah stress dan keletihan kerja berkepanjangan yang tidak terselesaikan dengan baik sehingga dapat memicu depresi. Orang yang mengalami stres masih mengusahakan apa yang sedang dikerjakan dan lebih cenderung kepada gejala fisik. Secara patofisiologi, Sindrom Burnout ialah keadaan dimana hormon kortisol yang seharusnya meningkat pada stress sudah tidak lagi dapat mengonpensasi stress pada tubuh yang pada akhirnya berakibat bukan hanya kepada gejala fisik melainkan juga mental dan emosi sehingga diikuti dengan perasaan tidak ada harapan, agresif dan depresif. Seringnya seseorang yang mengalami sindrom burnout tidak menyadari ia mengalami gangguan tersebut tetapi orang disekitar mulai melihat penurunan kualitas pekerjaan, perubahan prilaku dan gangguan kesehatan.

Maslach and Jackson mengkonsepkan Burnout sebagai konstrusi tiga dimensi yang terdiri dari Keletihan Emosional, Depersonalisasi, dan Kepuasan Pribadi yang kurang. Keletihan emosional (kelelahan, gejala somatik, menurunnya emosi, hilangnya simpati dan perasaan ketidakmampuan) sering digunakan untuk menggambarkan kelelahan yang sangat akibat perkerjaan. Depersonalisasi menggambarkan sikap negative, sinis dan perasaan impersonal sehingga klien / pasien diperlakukan seperti objek. Kepuasan Pribadi yang rendah menandakan adanya perasaan ketidakmampuan, ketidakefisienan, dan ketidakcakapan dalam melangsungkan tugas. Dalam evaluasi Burnout dengan menggunakan kuisioner, bila didapatkan nilai Keletihan Emosional, Depersonalisasi yang semakin tinggi dan Penurunan standar Kepuasan Pribadi yang rendah, maka dapat dikatakan semakin berisiko mengalami Burnout.

Pada Kopdar “Burnout Syndrome in Healthcare Professionals, peserta diberikan kesempatan untuk mengenali gejala fisik, gejala emosi dan gangguan perilaku yang mungkin merupakan tanda awal Burnout. Peserta juga diajak menuliskan stress/ketegangan yang sedang dihadapi, kemudian mengisi kuisioner evaluasi Burnout yang dipandu oleh dr. Citra dan dilanjutkan dengan sesi sharing antara sesama peserta dan tanya jawab. Rangkaian kegiatan ini kemudian menyimpulkan pentingnya kesadaran pribadi untuk mencari dan memberi lebih dini bantuan bila gejala – gejala yang teridentifikasi pada diri sendiri atau rekan kerja yang lain, juga ruang yang sehat untuk berbagi cerita dan mengevaluasi kesiapan, kesehatan perorangan sebagai pelayan kesehatan masyarakat.

Sebelum mengakhiri Kopdar kemarin, dr. Citra membagikan tips menarik untuk menjaga agar stres tidak menjadi Burnout. Setiap parktisi kesehatan disarankan untuk melakukan “visite” pada diri sendiri sebelum berinteraksi dengan pasien. Evaluasi kembali apa priotitas, tujuan dan harapan kita. Komunikasikan kendala atau kekhawatiran yang sedang dialami dengan sesame rekan kerja. Sempatkan waktu untuk beristirahat, melakukan hobi dan aktifitas fisik, relaksasi, juga makan dan minum secara teratur. Perlu diingat bahwa dalam penyelesaian Sindrom Burnout tidak ada “blanket solution” sehingga jangan ragu untuk berkonsultasi secara personal pada ahlinya jika mengalami kecurigaan kelelahan atas stres yang berlbihan.

Sumber :

  1. Lee, R.T.; Seo, B.; Hladkyl, S.; Lovell, B.L.; Schwartzmann, L. Correlates of physician burnout across regions and specialties: A meta-analysis. Hum. Resour. Health. 2013.
  2. Kumar S. Burnout and doctors: prevalence, prevention and intervention. InHealthcare 2016 (Vol. 4, No. 3, p. 37). Multidisciplinary Digital Publishing Institute.
  3. Jurado MD, del Carmen Pérez-Fuentes M, Linares JJ, Martín AB. Burnout in Health Professionals According to Their Self-Esteem, Social Support and Empathy Profile. Frontiers in psychology. 2018;9.

Oleh : Khariza Agatha, S.Ked

Leave a Reply

Close Menu