Kopdar #1 Food Sustainability

Kopdar #1 Food Sustainability

Spread the love

Sandang, pangan dan papan merupakan tiga hal utama yang paling dibutuhkan oleh manusia. Makan adalah kegiatan yang dilakukan oleh makhluk hidup untuk memenuhi kebutuhannya terhadap pangan. Bahan pangan yang dikonsumsi manusia diatur oleh sebuah sistem yang disebut sistem pangan. Sayangnya, sistem pangan kita saat ini masih memiliki empat keterbatasan utama. Belum lagi, adanya perkiraan pertambahan penduduk dunia sebanayak dua miliar jiwa di tahun 2050, menimbulkan tantangan yang lebih besar terhadap sistem pangan kita saat ini. Hal tersebut menimbulkan pertanyaan: “Akankah kita bisa makan dengan jumlah dan cara yang sama di masa yang akan datang?”

Pada Kopdar Working Group Food Sustainability beberapa waktu lalu, Globular HI memaparkan 2 permasalahan utama di bidang pangan, yakni:

Pertama, 1 dari 3 orang di dunia mengalami permasalahan gizi.

Permasalahan gizi yang dihadapi dunia saat ini terdiri dari gizi kurang (kurus) dan gizi lebih (kegemukan atau obesitas). Sebanyak 794 juta orang di dunia mengalami kelaparan dan 2 miliar orang tidak memiliki akses terhadap sumber vitamin dan mineral. Hal tersebut menunjukkan kurangnya asupan makanan secara kuantitas (jumlah) maupun kualitas. Di sisi lain, sebanyak 1,9 miliar orang mengonsumsi makanan berlebih dan 600 juta orang mengalami obesitas. Salah satu penyebab terjadinya permasalahan gizi adalah asupan makan yang secara tidak langsung dipengaruhi oleh sistem pangan yang mengatur kecukupan jumlah dan kualitas makanan.

Kedua, Makanan tinggi gula, garam, dan lemak.

Saat ini, jenis makanan semakin beragam, didukung oleh adanya media sosial yang mempermudah penyebaran informasi mengenai makanan tersebut. Sayangnya, kebanyakan makanan saat ini didominasi oleh makanan yang mengandung gula, garam dan lemak yang cukup tinggi. Sebagai akibatnya, penyakit tidak menular seperti diabetes mellitus, darah tinggi, dan penyakit jantung semakin umum ditemukan di masyarakat.

Selain hal-hal diatas, berkembangnya jenis makanan saat ini tidak diikuti oleh penganekaragaman bahan pangan yang dikonsumsi masyarakat. Saat ini, hanya terdapat 12 jenis tanaman (beras, gandum, jagung, kedelai, dll)  dan 5 jenis hewan yang paling banyak dikonsumsi oleh manusia. Beberapa bahan pangan tersebut memiliki dampak lingkungan yang cukup besar. Sebagai contoh, beras yang menjadi sumber energi utama masyarakat Indonesia ternyata membutuhkan 3000 liter air untuk bisa menghasilkan setiap kilogramnya. Contoh lain adalah sistem produksi daging dari peternakan merupakan penyebab ke-3 penghasil gas rumah kaca. 

Sampah makanan.

Sebanyak 1/3 makanan yang diproduksi di dunia yang sebetulnya masih layak dikonsumsi berakhir sebagai sampah. Masalah tersebut merupakan masalah yang terihat sepele, tetapi dampak dari terbuangnya makanan tersebut sangat besar. Dengan terbuangnya makanan, kita juga kehilangan sumberdaya yang digunakan selama proses produksi dan distribusi makanan tersebut. Jumlah makanan yang terbuang di dunia jika dikonversikan, dapat digunkan untuk memberi makan jutaan orang yang kelaparan di dunia. Sampah makanan juga memiliki dampak terhadap lingkungan. Sampah makanan yang menumpuk di tempat pembuangan sampah dapat menghasilkan gas metana, salah satu gas rumah kaca dengan jumlah yang cukup besar.

Sumberdaya alam yang terbatas.

Proses produksi bahan makanan sangat bergantung pada sumberdaya alam yang tersedia. Sayangnya, saat ini lingkungan mengalami kerusakan yang cukup parah. Sumber air berseih sebagai salah satu unsur produksi bahan pangan semakin berkurang. Di sisi lain, sumber air yang ada tercemar oleh polutan akibat perbuatan manusia. Lahan pertanian pun saat ini mengalami degradasi sebesar 33% akibat aktivitas manusia.

Transformasi sistem pangan

Salah satu cara untuk mengatasi keterbatasan sistem pangan saat ini adalah transformasi sistem pangan yang melibatkan setiap stakeholders yang terlibat. Salah satu gerakan transformasi sistem pangan dilakukan oleh seorang Chef asal Inggris, Jamie Oliver. Gerakan yang ia buat bernama Food Revolution yang berfokus pada perbaikan status gizi anak melalui pembentukkan regulasi pemerintah mengenai iklan atau prosmosi makanan dan minuman manis. Gerakannya juga meliputi kegiatan untuk memperkenalkan makanan sehat kepada anak. Jamie Oliver berhasil membuat kampanye #adenough (advertisement enough) dengan melibatkan pihak parlemen di Inggris. Salah satu pencapaiannya adalah komitmen yang dibuat oleh Walikota London, Saddiq Khan, untuk membatasi promosi produk makanan dan minuman manis pada sarana transportasi umum di London.

Apa yang dapat kita lakukan?

Sebagai konsumen, kita bisa mengadopsi Sustainable Diet atau pola makan berkelanjutan yang baru diadopsi sebagai salah satu panduan pola makan di Jerman dan Swedia. Sustainable diet adalah diet yang bersifat melindungi dan menghormati keanekaragaman hayati dan ekosistem, bisa diterima oleh kebudayaan setempat, adil dan terjangkau secara ekonomi, cukup dari segi zat gizi, aman, dan menyehatkan, dan mengoptimalkan sumberdaya alam dan manusia yang ada.

Terdapat 3 hal yang bisa dilakukan untuk menjalankan sustainable diet tersebut.

  1. Konsumsi pangan lokal
  2. Jangan membuang makanan
  3. Ikuti pedoman gizi seimbang.

Sebagian besar masyarakat Indonesia masih beranggapan bahwa pedoman gizi seimbang adalah pedoman 4 sehat 5 sempurna, padahal terdapa tpedoman baru yaitu pedoman gizi seimbang (PGS). PGS terdiri dari 10 pesan gizi seimbang yang cukup mendukung sustainable diet. Beberapa poin dalam PGS membahas tentang anjuran mengonsumsi aneka ragam pangan yang artinya mendukung diversifikasi (penganekaragaman) pangan. Selain itu, PGS juga mengatur mengai konsumsi gula, garam dan lemak.

Tak kalah pentingnya, poin pertama dalam PGS adalah “syukuri dan nikmati aneka ragam pangan”. Poin tersebut menganjurkan kita agar selalu bersyukur tehadap makanan yang kita miliki, tidak membuangnya dengan percuma, dan menghormati dari mana dan siapa yang telah memproduksi makanan tersebut. Saat ini, isu kesetaraan sedang banyak diperbincangkan secara global. Poin pertama PGS ini juga menunjukkan bahwa makanan dihasilkan oleh petani dan kita harus menghormati orang yang memproduksinya. Isu pertanian tersebut juga berhubungan dengan isu kesetaraan gender karena cukup banyak wanita yang terlibat dalam pertanian.

 

Leave a Reply

Close Menu