Kita dan Pengungsi

Spread the love

Oleh: dr. Atya Shabrina Monika

 

Beberapa tahun belakangan, kilas berita dunia seakan tidak lengkap tanpa menyorot perang – perang yang masih terus berkecamuk di beberapa belahan dunia. Kita seakan dibiasakan dalam melihat dampak perang secara nyata tanpa memahami apa yang sebenarnya terjadi di belakangnya. Arus pengungsi merupakan salah satu dampak nyata peperangan yang terjadi di dunia dan terus bergerak naik hingga sekarang. Perang yang seakan tidak usai, memaksa jutaan penduduk terpaksa meninggalkan rumah dan negara mereka dengan harapan mendapat bantuan dan rumah baru di negara lain. Seiring masuknya arus pengungsi di beberapa negara maju maupun berkembang, beberapa permasalahan sosial dan kesehatan merebak di pusat – pusat perlindungan pengungsi. Dimanakah letak Indonesia dalam menghadapi arus pengungsi dunia yang terjadi saat ini?

Makna Pengungsi

Merujuk pada Konvensi PBB tahun 1951, pengungsi didefinisikan sebagai orang yang dikarenakan oleh ketakutan beralasan akan penganiayaan yang disebabkan oleh alasan ras,  agama, kebangsaan, keanggotaan dalam kelompok sosial dan partai politik tertentu, berada di luar negara kebangsaannya dan tidak menginginkan perlindungan dari negara tersebut.

Seringkali terminologi pengungsi dan pencari suaka menjadi membingungkan. Pencari suaka sendiri didefinisikan sebagai seseorang yang menyebut dirinya sebagai pengungsi namun permintannya akan perlindungan belum selesai dipertimbangkan. Permintaan seorang pencari suaka dapat ditolak atau diterima di suatu negara setelah menjalani proses penentuan status pengungsi.

Indonesia dan Pengungsi

Indonesia sampai dengan saat ini belum menjadi negara pihak Konvensi 1951 maupun Protokol PBB 1967 mengenai pengungsi. Namun, Indonesia memiliki Peraturan Presiden Nomor 125 tahun 2016 tentang penanganan pengungsi dari luar negeri. Hal ini walau dianggap belum memadai di mata internasional, namun menjadikan Indonesia satu – satunya negara di Asia Tenggara yang memiliki hukum nasional mengenai penanganan pengungsi. Untuk membantu permasalahan ini, UNHCR, salah satu badan PBB dalam masalah pengungsi, ditunjuk sebagai badan resmi yang memproses permintaan status pengungsi di Indonesia.

Ketidakjelasan hukum yang berlaku di Indonesia, membuat posisi Indonesia sebagai negara transit pengungsi menjadi negara yang tidak menguntungkan untuk disinggahi oleh para pengungsi. Ribuan pengungsi sampai saat ini masih tertahan di kantor imigrasi, rumah detensi imigran dan rumah komunitas. Setidaknya berdasarkan Direktorat Jenderal Keimigrasian Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia, sampai dengan tahun 2017, terdapat 14.364 pengungsi dan pencari suaka di Indonesia,

UNHCR juga menambahkan data tentang asal para pengungsi yang berasal dari negara – negara berbeda. Komunitas pengungsi terbesar di Indonesia sampai saat ini berasal dari Afghanistan sebanyak 7.154 pengungsi, disusul oleh Somalia dengan 1.446 pengungsi, dan sisanya terdiri atas Myanmar, Irak hingga Nigeria.

Laporan dari Human Rights Watch menyebutkan bahwa para pengungsi yang tiba di Indonesia pada umumnya tidak memiliki masa depan yang layak di negara ini. Tidak memiliki status hukum yang jelas, tidak memiliki hak untuk bekerja hingga terbatasnya akses ke pendidikan bagi anak – anak adalah beberapa permasalahan yang masih harus terus kita benahi ke depannya.

Pengungsi dan Kesehatan

Dengan tingginya arus pengungsi yang masuk ke suatu negara, permasalahan sosial maupun kesehatan kian merebak di sentra – sentra pengungsian seluruh dunia. Beberapa negara maju mulai menyusun suatu sistem yang mengatur akses kesehatan para pengungsi di negaranya. Indonesia melalui Perpres No.125 tahun 2016 menjamin bahwa pengungsi yang masuk ke Indonesia, berhak mendapatkan perawatan oleh tenaga medis sesuai dengan kebutuhan. Bahkan jika terbukti pengungsi memiliki penyakit yang menular dan berbahaya, pengungsi dapat dirujuk ke rumah sakit atau fasilitas pelayanan kesehatan tertentu lainnya.

Selain mendapat fasilitas kesehatan, negara juga mengatur bahwa pengungsi berhak mendapatkan tempat penampungan dan air bersih, pemenuhan kebutuhan makan dan minum dan penyediaan tempat ibadah. Suatu studi membuktikan bahwa selain beberapa penyakit infeksi, angka morbiditas pengungsi juga disumbang oleh masalah mental dan sosial. Depresi pasca trauma dan eksploitasi anak menjadi dua hal yang sering terjadi di kalangan pengungsi ini. Pengungsi wanita khususnya juga menghadapi masalah dalam maternal dan neonatus hingga kesehatan reproduksi.

Keterbatasan dana dan peraturan yang mengatur masalah pengungsi, membuat negara kita masih perlu belajar untuk memahami posisi strategis dalam masalah ini. Masih banyaknya masalah internal yang masih harus diselesaikan juga ikut mempengaruhi lambatnya masalah pengungsi diatasi dan ditangani oleh pemerintah kita. Arus pengungsi dunia kian meningkat tiap tahunnya, kapankah Indonesia siap menyambutnya dengan persiapan yang lebih baik lagi?

 

Sumber:

  1. http://www.unhcr.org/id
  2. https://aa.com.tr/id/dunia/belum-ratifikasi-konvensi-1951-indonesia-tetap-bantu-pengungsi/1128455
  3. http://www.euro.who.int/en/health-topics/health-determinants/migration-and-health/migrant-health-in-the-european-region/migration-and-health-key-issues#292115
  4. Perpres No.125 tahun 2016 tentang Penanganan Pengungsi dari Luar Negeri

Leave a Reply

Close Menu