KESEHATAN DALAM KESETARAAN GENDER

Spread the love

“In many societies, women and young girls do not enjoy the same access to health as men, let alone the same rights or opportunities. But a society that does not cure and treat its women and young girls with love and care and with equality will never be a healthy society.”

– Dr. Nafsiah Mboi, Indonesia’s Former Minister of Health

 

 

Setiap tahunnya, dunia merayakan International Women’s Day pada tanggal 8 Maret sebagai bentuk peringatan terhadap isu-isu perempuan. Media sosial baik nasional maupun internasional selalu ramai dengan tagar-tagar yang menjadi pesan yang ingin ditunjukkan pada tahun tersebut. Contohnya pada tahun 2017 ini, #BeBoldForChange. Hilary Clinton, kandidat Calon Presiden Amerika Serikat kemarin juga menggemakan tagar #NoCeilings sebagai pesan kepada perempuan di seluruh Amerika bahwa tidak ada lagi langit-langit yang membatasi mimpi mereka. Namun, sampai saat ini pernahtah kita jumpai pergerakan yang menjadikan kesehatan sebagai ujung tombak dalam mendobrak isu kesetaraan gender?

Sayangnya, perhatian mengenai isu kesetaraan gender terbagi menjadi dua kutub besar, yakni mengenai kekerasan seksual pada perempuan dan isu  Lesbian Gay Bisexual Transgender(LGBT). LGBT merupakan isu yang sangat sensitif di masyarakat Indonesia karena dianggap bertentangan dengan nilai-nilai yang dianut bangsa Indonesia. Bahkan kita bisa menemukan banyak berita mengenai pembubaran acara bernuansa LGBT di Indonesia dengan mudah, salah satunya pembubaran acara Lady Fast di Yogyakarta oleh Polres dan ormas-ormas keagamaan. Hal yang menjadi perhatian GHI dalam isu ini adalah ancaman pengasingkan komunitas LGBT (stigma), yang jika diekstrapolasi, dampak jangka panjangnya dapat melanggar Hak Asasi Manusia (HAM) mereka, yaitu akses terhadap kesehatan pada golongan masyarakat tertentu. Kenyataannya, selain isu LGBT isu-isu kesehatan pada umumnya seperti tuberkulosis, HIV/AIDS, kesehatan mental, kesehatan remaja perempuan, hingga pendidikan juga sepatutnya mendapat perhatian.

Mantan Menteri Kesehatan Indonesia mengatakan bahwa tidak akan pernah tercipta masyarakat yang sehat jika masyarakat itu sendiri tidak memperlakukan perempuan dengan pria setara dalam perihal hak, kesempatan, dan akses dalam memperoleh kesehatan. Lantas, dalam hal apa ketidaksetaraan gender memengaruhi kesehatan perempuan?

Berdasarkan data Global Fund to Fight AIDS, Tuberculosis and Malaria, HIV/AIDS merupakan penyebab utama kematian perempuan berusia 15-44 tahun. Perempuan remaja dan usia muda berumur 15-24 memiliki dua kali lebih risiko terkena infeksi HIV dibandingkan laki-laki pada usia yang sama. Perempuan usia 20-59 pada negara berpenghasilan rendah, tuberkulosis merupakan 1 dari 5 penyebab kematian terbesar.

Menurut data WHO tahun 2011, jika angka perempuan yang tidak mendapat pendidikan dasar meningkat, maka dampaknya semakin negatif terhadap jumlah kelahiran, jarak kehamilan, dan pengetahuan tentang kesehatan. Misalnya, perempuan yang tidak sekolah akan cenderung tidak memiliki pengetahuan yang cukup tentang kesehatan, menikah lebih muda, tidak bekerja karena harus mengurus anaknya. Kurangnya latar belakang pendidikan sejalan dengan kurangnya kapabilitas perempuan tersebut dalam pengambilan keputusan untuk dirinya sendiri. Seperti yang diberitakan oleh UNICEF Indonesia, masih ada perempuan di Indonesia yang dinikahkan pada usia muda, akhirnya putus sekolah karena harus mengurus anaknya dan tidak mempunyai pendapat yang berarti dalam pengambilan keputusan rumah tangga.

CONCLUSION

Kesetaraan gender tidak sama dengan LGBT, juga tidak serta merta mengeksklusi isu tersebut. Perbedaan pandangan mengenai LGBT tentu tidak terelakkan, namun persetujuan mengenai Hak Asasi Manusia (HAM) yang sudah dunia sepakati sejak tahun 1948, bahwa setiap orang berhak mendapat kehidupan yang layak untuk dirinya dan keluarganya, termasuk makanan, pakaian, tempat tinggal, dan pelayanan kesehatan  tidak boleh kita singkirkan hanya karena perbedaan kepercayaan. Kesetaraan gender dalam kesehatan berarti mengusahakan ekuitas antara pria dan perempuan sehingga tidak ada lagi ketimpangan dalam kondisi kesehatan perempuan hanya karena sistem patriarki, kesetaraan gender juga berarti mendukung hak perempuan dalam mengambil keputusan yang berkaitan dengan dirinya, termasuk hobi, pekerjaan, kegiatan yang selama ini diasosiakan dengan kegiatan pria.

This Post Has One Comment

Leave a Reply

Close Menu