Kejadian Difteri Kembali Meningkat, Kita Ikut Bertanggung Jawab

Spread the love

Difteri merupakan salah satu penyakit yang disebabkan oleh bakteri C. diptheriae dan menular. Sebenarnya penyakit ini dapat dicegah dengan pemberian imunisasi yang lengkap. Namun, mengapa penyakit yang dapat dicegah angka kejadiannya kini meningkat kembali di Indonesia?

Teknologi vaksinasi telah ada di Indonesia sejak lama. Pada tahun 1956 telah, diadakan pelaksanaan imunisasi penyakit cacar disusul dengan vaksin tetanus ibu hamil tahun 1974, vaksin difteri,pertussis dan tetanus (DTP) dimulai pada tahun 1976, sementara vaksin BCG, polio dan campak pada tahun 1980.

Awalnya, pencapaian cakupan imunisasi di Indonesia hanya mencapai 5% pada tahun 1974. Kemudian, pemerintah mengadakan program imunisasi bernama Expanded Programme Immunization. Program ini berhasil membuat 3 juta anak Indonesia terhindar dari penyakit menular dan 750.000 lebih anak terhindar dari cacat setiap tahunnya.

Pencapaian keberhasilan program imunisasi juga tidak lepas dari kontroversi. BMJ (British Medical Journal) menyatakan, kontroversi imunisasi sudah ada sejak awal penemuannya, bahkan sebelum disebarkan ke masyarakat. Mulai dari masalah efek samping dari penyuntikan vaksin yaitu dugaan akan adanya kematian hingga terjangkit penyakit dari vaksin yang disuntikkan. Kontroversi lain yang timbul sesudahnya adalah mengenai agama dan kebebasan individu. Kontroversi yang ada inilah yang menyebabkan dibutuhkan beberapa tahun untuk mendapatkan kepercayaan masyarakat.

Indonesia sudah dinyatakan bebas difteri pada tahun 1990, maka dari itu, satu saja kejadian kasus difteri sudah dianggap kejadian luar biasa. Namun, sejak tahun 2013 difteri kembali ada di Indonesia. Menurut IDAI (Ikatan Dokter Anak Indonesia), faktor penyebab selain rendahnya imun adalah karena vaksinasi tidak lengkap atau tidak dilakukan. Faktor penting lainnya adalah distribusi vaksin dari pabrik tempat pembuatan vaksin sampai ke daerah-daerah. Saat vaksin di transportasikan, harus ada pengontrolan suhu yang baik (Cold Chain) agar kualitas vaksin tetap baik karena vaksin difteri itu akan rusak bila terpapar suhu dibawah 2◦C atau terpapar suhu diatas 8◦C.

Hari ini, daerah yang sedang mengalami Kejadian Luar Biasa (KLB) Difteri sedang dilaksanakan program ORI (Outbreak Response Immunization) . Daerah non-KLB juga sudah dihimbau untuk bersiapsiaga untuk mengatasi KLB dan pencegahan sebelum terjadi KLB yaitu dengan kembali memeriksa status kelengkapan imunisasi difteri. Kedepannya diharapkan penanganan KLB difteri saat ini dapat bermanfaat mencegah penyakit difteri jangka pendek dan jangka panjang.

Tantangannya adalah, pencegahan penyakit-penyakit yang dapat dicegah seperti difteri memerlukan peran dari pemerintah dan semua masyarakat baik medis maupun non medis. Masyarakat non medis memerlukan pemahaman yang baik tentang penyakit-penyakit dan cara pencegahannya. Bagi masyarakat medis, penting untuk kembali memeriksa status imunisasi setiap pasien dan memberikan edukasi kepada masyarakat non-medis.

Pemerintah juga memegang peranan penting agar ketersediaan vaksin dan obat-obatan merata di semua tempat di Indonesia. Proses pembuatan dan transportasi vaksin juga perlu perhatian yang lebih agar kualitas vaksin tetap baik sampai ke tangan masyarakat.

 

Oleh: Karina Sonata Miguna

Penulis adalah dokter internsip di RSUD Karawang.

This Post Has One Comment

Leave a Reply

Close Menu