Ibu, Anak dan HIV/AIDS

Spread the love

oleh: Dr. Atya Shabrina M.

Berbicara tentang HIV/AIDS tidak pernah lepas dari berbagai mitos yang menyertainya, mulai dari cara penyebaran penyakit ini hingga pengobatannya. Stigma yang juga terus menyertai penyakit ini membuat pentingnya penyebaran informasi terpercaya tentang penyakit ini di masyarakat, termasuk ditingkatnya diskusi publik mengenai HIV/AIDS.

Beberapa pasien yang saya temui di rumah sakit tempat saya menempuh pendidikan baru memutuskan datang ke sentra kesehatan ketika keadaan sudah terlalu parah. Pasien biasanya datang dengan infeksi berat, baik infeksi paru, kulit atau organ lainnya. Bukan tanpa sebab para pasien ini menunda pengobatan. Ketakutan akan stigma masyarakat dan ketakutan tersebarnya informasi medis mereka ke keluarga atau orang terdekat menjadi alasan yang paling banyak diutarakan.

HIV/AIDS merupakan dua definisi yang berbeda namun dalam satu rangkaian yang sama. Human Immunodeficiency Virus (HIV)  menyerang sistem imun seseorang dan melemahkan mekanisme pertahanan tubuh terhadap berbagai macam infeksi, termasuk di dalamnya beberapa jenis kanker. Acquired Immunodeficiency Syndrome (AIDS) adalah suatu proses lebih lanjut dari dari HIV dan bisa memakan waktu bervariasi di tiap individu, dari 2 hingga 15 tahun. AIDS dapat berupa berbagai infeksi, kanker dan manifestasi klinis lainnya. Pengobatan HIV/AIDS sampai sekarang bukanlah pengobatan definitif, melainkan pengobatan untuk menekan proses replikasi virus dalam tubuh penderita dengan menggunakan obat – obatan Anti Retro Viral (ARV).

Pengkonsumsian ARV menjadi suatu tantangan tersendiri bagi para penderita HIV/AIDS dan tenaga kesehatan. Banyaknya efek samping ARV dan rasa jenuh karena konsumsi seumur hidup membuat banyak penderita yang memutuskan berhenti mengkonsumsinya. Padahal ARV sendiri menjadi begitu penting dalam pengendalian viral load dalam tubuh penderita dan mencegah komplikasi dari penyakti ini.

Setidaknya 36.7 juta penderita hidup dengan HIV/AIDS secara global dengan angka 1.8 juta penderita baru di tahun 2016 membuat penyakit ini menjadi salah satu masalah terbesar kesehatan global. Data WHO menyebutkan dari angka tersebut, penyakit ini menelan korban jiwa sebanyak 1 juta jiwa tiap tahunnya.1

HIV dapat ditularkan dengan berbagai cara selain melalui kegiatan seksual (baik vaginal, anal maupun oral) dan penggunaan jarum suntik bersama. Cara lain yang belum banyak dipahami oleh masyarakat adalah melalui transfusi darah atau penggunaan instrumen medis yang terkontaminasi dengan darah penderita juga transmisi langsung dari ibu ke anak baik di saat kehamilan, proses melahirkan dan menyusui.2 Kurangnya informasi mengenai cara transmisi ini menjadi suatu celah untuk tingginya angka HIV/AIDS di kalangan perempuan terutama ibu rumah tangga.

Mayoritas penderita wanita HIV/AIDS, 17 juta jiwa secara global, tinggal di daerah Sub – Sahara Afrika. Data NCBI menyebutkan, HIV/AIDS menyumbang 19.000 – 56.000 kematian maternal di dunia pada tahun 2011 (6% – 20% dari kematian terkait maternal). Banyak dari kasus kematian tersebut dapat dicegah dengan implementasi dari layanan kandungan yang tepat dari awal, pencegahan dan pengobatan untuk penyakit ko-infeksi yang menyertai dan penggunaan ARV.3

Per 2015, setidaknya 1.8 juta jiwa anak hidup dengan HIV di seluruh dunia, dari data tersebut 150.000 anak merupakan penderita baru. Dengan semakin luasnya cakupan ARV di seluruh dunia, ibu hamil menjadi prioritas utama dengan cakupan yang cukup tinggi yaitu 76% dari semua kasus. Sulitnya akses untuk mendapatkan ARV di berbagai negara dengan pendapatan rendah hingga sedang menjadi salah satu kendala dalam pemenuhan cakupan ARV pada ibu hamil secara paripurna. Namun, hal ini bukan berarti tidak mungkin karena pada tahun 2015 beberapa negara berkembang berhasil mengeliminasi transmisi HIV/AIDS dari ibu ke anak secara penuh seperti Kuba, Thailand,dan Belarus.

Data dari Kementerian Kesehatan RI memperlihatkan angka penderita HIV di Indonesia pada tahun 2014 menembus 22.000 penderita, dengan perbandingan 13.280 penderita berjenis kelamin laki – laki dan 9.589 penderita perempuan. Fakta yang mengejutkan datang dalam penjabaran jumlah kumulatif AIDS menurut jenis pekerjaan karena mayoritas penderita adalah ibu rumah tangga dengan total 6.539 penderita.4 Sebuah studi di India menyimpulkan bahwa 90% penderita perempuan di negara tersebut mendapatkan HIV dari suaminya, namun para penderita ini cenderung mendapatkan stigma dan diskriminasi yang lebih berat dari laki – laki. Beberapa nilai budaya yang dianut juga mempersulit kaum ibu rumah tangga dalam mendapatkan akses ke pengobatan bahkan secara umum. Beberapa kasus yang saya temui di RS membuat segala keputusan terhadap nyawa seorang istri/ibu bergantung pada suami atau keluarga besarnya bahkan dalam kasus yang mengancam nyawa sekali pun.

Diperlukan adanya kerjasama antar lembaga di suatu negara dalam pencegahan HIV/AIDS terutama dalam kasus ibu hamil atau ibu rumah tangga. Pemenuhan stok ARV di sentra – sentra kesehatan perifer dan penyuluhan juga sosialiasi mengenai penyakit ini harus terus ditingkatkan untuk mengurangi stigma sosial dan diskriminasi dari masyarakat ke penderita. Dukungan dan motivasi dari keluarga juga masyarakat dapat meningkatkan angka penderita HIV/AIDS dalam terbuka dan menerima pertolongan profesional untuk memulai terapi ARV. Berkaca dari berbagai negara berkembang yang mampu mengembangkan sistem yang kuat dalam menangani masalah transmisi HIV/AIDS ibu anak, Indonesia pun seharusnya mampu dan kita bisa menjadi bagian dalam perubahan yang lebih baik lagi di masa depan.

 

Source :

  1. HIV/AIDS – Fact Sheet WHO http://www.who.int/mediacentre/factsheets/fs360/en/
  2. 10 Facts on HIV/AIDS http://www.who.int/features/factfiles/hiv/en/
  3. HIV and Maternal Mortality https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC4302331/pdf/nihms-655533.pdf
  4. Situasi dan Analis HIV AIDS http://www.depkes.go.id/resources/download/pusdatin/infodatin/Infodatin%20AIDS.pdf

Leave a Reply

Close Menu