Healthy Energy

Healthy Energy

Spread the love

Oleh: Timoty Mario, S.Ked

Tidak hanya kepada masyarakat yang tinggal di kota besar  atau sampai ke pelosok desa, perubahan iklim merupakan permasalahan global yang menjangkiti semua aspek kehidupan manusia saat ini. Setiap aspek primer kehidupan manusia telah mengalami perubahan signifikan selama 50 tahun belakangan. Kebutuhan akan air, pangan dan udara yang bersih diprediksikan akan semakin sulit dijangkau. WHO merilis data pada 2016 tentang dampak climate change terhadap manusia secara global.

Salah satu poin yang telah menjadi perhatian bersama dari WHO, Greenpeace dan beberapa NGO internasional lainnya ialah perlunya kesadaran pemerintah setiap negara terhadap dampak penggunaan energi bagi kesehatan masyarakat di Negaranya. Seperti pembahasan sebelumnya mengenai dampak polusi udara terhadap kesehatan, dapat kita lihat fakta yang cukup mencengangkan.  Di Indonesia sebagai Negara ekonomi berkembang yang sedang bertumbuh secara pesat, penggunaan batubara sebagai pembangkit listrik tenaga batu bara ternyata masih menjadi ketergantungan yang sangat besar dalam program pemenuhan 35.000 MW energi.

Pada awal bulan Juli 2017 The European Environmental Agency merilis sebuah laporan yang menyatakan bahwa penggunaan energy batubara merupakan penyebab utama polusi terhadap udara dan air di regional Eropa. Negara-negara seperti Inggris Raya, Jerman, Perancis dan Polandia masih menjadi penyumbang utama sebagai penyebab polusi di benua biru meski kebijakkan energy untuk mengurangi polusi telah diberlakukan di Negara-negara tersebut.

Kebutuhan akan energi yang sehat (Healthy Energy) dan ramah lingkungan sebetulnya bukan hal yang asing bagi pemerintah Indonesia. Industri hijau sebagaimana yang tercantum dalam UU No 3 tahun 2014 tentang perindustrian telah dianggap menjadi solusi yang menjanjikan. Berdasarkan kesepakatan pada The Conferences of Parties (COP) ke-16 United Nations Frameworks Convention on Climate Change (UNFCCC) di Cancun serta pertemuan G-20 di Pittsburg, Pemerintah Indonesia berkomitmen untuk menurunkan emisi gas rumah kaca sebesar 26% dengan usaha sendiri dan mencapai 41% jika mendapat bantuan internasional pada tahun 2020 dari kondisi tanpa adanya rencana aksi mitigasi.

Langkah yang dimaksud oleh pemerintah Indonesia sebagai tanggungjawab bersama secara global tertuang dalam buku Outlook Energi Indonesia yang dirilis oleh Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) setiap tahunnya. Namun jika melihat dari data penggunaan energy batu bara oleh pemerintah Indonesia, dalam periode waktu 2014 sampai dengan 2050, konsumsi batubara dalam negeri justru diproyeksikan akan meningkat dengan pertumbuhan hampir 5% per tahun, sehingga konsumsi batubara meningkat hampir enam kali lipat dari 118 juta ton pada 2014 menjadi 655 juta ton pada 2050.

Dalam hal pemenuhan Healthy Energy, GHI memberikan perhatian khusus terkait penggunaan energy yang ramah lingkungan bagi masyarakat dalam isu perubahan iklim. Data dari WHO telah memberikan deskripsi yang sangat mudah untuk dipahami bahwa efek penggunaan energi telah menyentuh aspek terkecil dari kesehatan manusia. Langkah maju telah dilakukan terlebih dahulu oleh sekelompok neyalan di pesisir utara laut Jawa. Sejumlah neyalan di daerah Brondong, Lamongan, telah mengganti penggunaan aki setrum ke panel surya. Langkah perubahan dari energi listrik menjadi energi panas matahari telah dilakukan kurang lebih selama  4 tahun dan para nelayan telah merasakan dampak penggunaan energi terbarukan ini secara ekonomis.

Upaya pemerintah yang juga sudah melakukan ketersediaan energy terbarukan (renewable energy) , seperti pemanfaatan energi panas bumi (geothermal) pada Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi  (PLTP) masih belum dapat menggantikan ketergantungan terhadap energy batubara .

Konklusi

Kebutuhan akan energy sehat dan ramah terhadap lingkungan masih menjadi pekerjaan rumah bersama tidak hanya bagi pemerintah namun bagi masyarakat secara luas. Penggunaan energi yang nyatanya menimbulkan dampak kesehatan bagi masyarakat masih belum dapat tergantikan, justru konsumsinya semakin ditingkatkan.   Pemerintah Republik Indonesia perlu kembali mengkaji ulang penggunaan energi yang secara massif justru ingin ditingkatkan dengan melihat dampak negatif terhadap masyarakat. Upaya penyediaan energi alternatif yang ternyata sudah dilakukan oleh sekelompok masyarakat nelayan di daerah Lamongan, sepatutnya menjadi perhatian bersama bahwa langkah kecil terhadap pemenuhan kebutuhan sehari-hari sebetulnya dapat kita lakukan secara mandiri.

Referensi :

  1. WHO : Climate Change & Health. Fact Sheet Updated July 2017
  2. BPPT : Outlook Energi Indonesia. 2017
  3. http://www.mongabay.co.id/2017/07/04/para-nelayan-ini-beralih-gunakan-energi-surya-saat-melaut/

Leave a Reply

Close Menu