Hari Kartini: #GenderPayGap

Spread the love

Oleh: Anne Cintya Afriliani, S.Kep

 

#GenderPayGap: It Does Exist!

Hari Kartini yang dirayakan setiap tanggal 21 April merupakan hari peringatan emansipasi dan pembebasan atas tradisi yang mengekang wanita untuk mendapat pendidikan.

Kesetaraan gender merupakan masalah yang masih relevan hingga hari ini di seluruh dunia pada berbagai sektor. Dalam sektor ekonomi, misalnya, terdapat isu Gender Pay Gap atau kesenjangan upah yang diterima antara pria dan wanita, yang sensitif untuk diperbincangkan.

Kita mungkin sering mendengar bahwa pria dibayar lebih banyak daripada wanita selama masa produktifnya. Namun, apakah penyebab wanita dibayar lebih sedikit karena lebih banyak wanita bekerja paruh waktu? Ataukah memang gender berpengaruh terhadap dengan gaji?

Di tahun 2016, American Association of University Women melaporkan bahwa wanita yang bekerja full time (penuh waktu) di Amerika Serikat biasanya dibayar hanya 80 persen dari yang dibayarkan untuk pria. Melihat tren perbaikan kesetaraan upah antara tahun 1960 dan 2016, perempuan diharapkan mencapai kesetaraan upah dengan laki-laki pada tahun 2059. Namun, jika perubahan berlanjut pada tingkat yang lebih lambat yang terlihat sejak tahun 2001, perempuan tidak akan mencapai kesetaraan upah dengan laki-laki sampai tahun 2119.

Gender pay gap juga tumbuh seiring bertambahnya usia. Tahun 2016, wanita usia 20-24 dibayar 96 persen dari apa yang dibayar pria, namun menurun menjadi 78-89 persen pada usia 25 hingga usia 54. Saat para pekerja mencapai 55-64 tahun, wanita hanya dibayar 74 persen dari pria.

Pada umumnya, penghasilan akan meningkat jika terjadi peningkatan pendidikan untuk pria dan wanita. Namun, lagi-lagi terjadi fenomena gender pay gap. Wanita cenderung memiliki pendapatan yang lebih rendah daripada pria, walaupun tingkat pendidikannya sama. Selain itu, pendidikan juga dipengaruhi oleh ras dan etnis. Perempuan kulit putih dibayar lebih dari perempuan kulit hitam dan Hispanik di semua tingkat pendidikan.

Di Indonesia, asumsi kultural bahwa pria adalah pencari nafkah dan wanita mengurus rumah tangga masih kuat di masyarakat. Akibatnya, ketika wanita bekerja, mereka diasumsikan hanya sebagai pencari nafkah ‘tambahan’. Hal ini juga menimbulkan fenomena gender pay gap. Upah pria seringkali lebih tinggi dari upah wanita karena pria diharapkan untuk menafkahi keluarganya. Sementara pekerja perempuan, bahkan ketika menikah, secara hukum juga masih dianggap lajang. Organisasi Perburuhan Internasional (ILO) menyatakan bahwa pada tahun 2012 kesenjangan upah gender di Indonesia masih kurang 19%.

Di tahun 2014, penelitian yang dilakukan Kiyoshi Taniguchi dan Alika Tuwo berjudul “New Evidence on the Gender Wage Gap in Indonesia” menunjukkan bahwa paritas gaji di antara kedua jenis kelamin itu masih jauh. Data menunjukkan bahwa upah riil bulanan pekerja perempuan 30,8% lebih rendah daripada pekerja laki-laki, dengan kesenjangan upah sedikit lebih luas (31,5%) di pusat-pusat perkotaan daripada di daerah pedesaan (29,9%). Bagian dari keseluruhan kesenjangan 30,8% karena diskriminasi adalah 28,7%, yang berarti pekerja perempuan menerima 28,7% lebih sedikit dibandingkan pekerja laki-laki karena diskriminasi gender. Sisanya kesenjangan (2,1%) dijelaskan oleh faktor-faktor non-diskriminatif seperti jam kerja atau pencapaian pendidikan oleh pekerja perempuan. Di pusat-pusat perkotaan, 27,6% dari kesenjangan upah disebabkan oleh diskriminasi gender, dan di daerah pedesaan, diskriminasi menyumbang 28,9%.

Dengan fakta statistik di atas, satu hal yang dipastikan: seperti jenis diskriminasi lainnya, gender pay gap dapat mempengaruhi kesehatan seorang wanita.

 

#GenderPayGap: Efeknya pada Kesehatan

Ada penelitian yang cukup kuat mengenai hubungan antara diskriminasi gender pay gap dan masalah kesehatan mental. Pada tahun 2016, data yang dipublikasikan di Social Science & Medicine menyatakan wanita yang mendapatkan penghasilan jauh lebih rendah daripada pria dalam pekerjaan yang sama di AS memiliki risiko tinggi mengalami gangguan kecemasan dan risiko depresi hampir 2,5 kali lebih besar. Hal ini didukung oleh World Health Organization (WHO) yang menyatakan gender pay gap merupakan tantangan besar bagi kesehatan mental wanita.

Sebuah studi lain menyatakan, tuntutan wanita untuk merawat keluarganya turut mempengaruhi kesehatan mental dan konflik dalam keluarga.

Selain kesehatan mental, para ahli dari Centre for Health Equity di University of Melbourne juga meyakinkan “diskriminasi dalam berbagai pengaturan, termasuk di tempat kerja, membahayakan kesehatan mental dan fisik.” Wanita yang merasa didiskriminasi seringkali mengalami masalah kesehatan yang terkait dengan stres, termasuk risiko yang lebih tinggi dari hipertensi dan bahkan kanker payudara. Stres juga mendorong wanita mengonsumsi alkohol lebih banyak.

Kenapa hal ini penting? Karena kesehatan wanita merupakan hal penting. Pertama, kesehatan yang buruk membuat kita kurang produktif dan menghambat kontribusi ekonomi kita sehingga dapat diperkirakan berapa banyak dampak pembayaran biaya kesenjangan kesehatan dunia setiap tahun. Kita sudah tahu bahwa jenis lain dari diskriminasi di tempat kerja akan membebani perusahaan dalam jumlah besar dalam produktivitas yang hilang dan berhenti atau pekerja yang tidak bahagia.

Gender pay gap merupakan fenomena gunung es yang menyebabkan berbagai masalah jangka panjang. Mengatasi kesenjangan upah ini akan meningkatkan kesejahteraan dan kesehatan perempuan yang bekerja.

Wanita layak mendapatkan yang lebih baik.

Sebagai generasi yang mulai terbuka dengan banyaknya masalah yang terjadi pada perempuan, Globular HI mengajak semuanya untuk bisa berkontribusi dalam perayaan Hari Kartini kali ini dengan mendukung aksi #TimeIsNow for Gender Equality dengan meningkatkan Undang-Undang Pembayaran Setara sejak tahun 1963 serta dapat belajar strategi untuk bernegosiasi dengan lebih baik agar mendapatkan upah yang sama dan saling membantu meminimalisir resiko terjadinya kecemasan dan depresi pada wanita.

Further Readings:

  1. Unequal depression for equal work? How the wage gap explains gendered disparities in mood disorders https://www.sciencedirect.com/science/article/pii/S0277953615302616
  2. Gender Differences in Paid and Unpaid Work https://link.springer.com/chapter/10.1007/978-3-319-59686-0_8
  3. Indonesian Culture Causes many Gender Pay Gaps wageindicator.org
  4. New Evidence on the Gender Wage Gap in Indonesia https://www.adb.org/sites/default/files/publication/84120/ewp-404.pdf
  5. The Simple Truth about the Gender Pay Gap aauw.org
  6. The gender pay gap is harming women’s health https://theconversation.com/the-gender-pay-gap-is-harming-womens-health-68919
  7. Perceived Discrimination and Health: A Meta-Analytic Review https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC2747726/

Leave a Reply

Close Menu