Fenomena Berobat ke Luar Negeri: Apakah Salah Dokter Indonesia?

Spread the love

Oleh: dr. Atya Shabrina M

Selama menjadi seorang mahasiswa kedokteran, maupun ketika menjadi dokter sekarang, tidak jarang saya menemui mereka yang dengan bangga mengatakan telah berobat ke luar negeri. Bahkan, ibu saya sendiri beberapa kali melakukan medical check – up di negeri tetangga dengan berbagai alasan. Tidak hanya medical check – up, beberapa pasien saya pun bercerita telah melakukan berbagai prosedur medis di luar sana.

Tentu saya tergelitik bertanya, apa penyebab para pasien kita beralih ke luar negeri untuk berobat? Rata – rata menjawab kepuasan pelayanan kesehatan yang mereka dapatkan di sana tidak dapat dibandingkan dengan di negeri sendiri. Dokternya ramah dan mau meluangkan waktu begitu lama dalam menjelaskan penyakit ke pasien, fasilitas kesehatan mutakhir dengan lingkungan RS yang nyaman, dan harga yang lebih murah jika dibandingkan dengan fasilitas serupa di Indonesia adalah beberapa alasan teratas yang sering dikemukakan pasien saya.

Menurut riset yang dilakukan oleh Bloomberg pada tahun 2014, beberapa negara tetangga kita di Asia bercokol di peringkat atas dalam efisiensi pembiayaan kesehatan. Singapura bahkan menduduki peringkat pertama dan disusul oleh Hongkong dan Jepang. Riset Bloomberg mengevaluasi perbandingan biaya perawatan kesehatan dan Produk Domestik Bruto per kapita, usia harapan hidup, dan perbaikan berdasarkan kebijakan pemerintah di tahun sebelumnya. 

Terdapat sebuah artikel menarik dari Tempo tentang wawancara dengan dua orang dokter dari Malaysia dan Indonesia mengenai alasan fenomena wisata medis yang dilakukan warga negara kita ke negeri jiran tersebut. Salah satu yang dibahas adalah mengenai tingginya pajak bea cukai terhadap alat – alat kesehatan yang masuk ke Indonesia. Hal ini sangat ironis mengingat 90% alat kesehatan di Indonesia diimpor dari luar. Pajak bea cukai terhadap alat – alat kesehatan ini mencapai 30%, belum ditambah dengan pajak penjualan ke RS atau sarana kesehatan lainnya sebesar 10%. Beban pajak yang begitu besar membuat kalangan kesehatan terpaksa mematok harga yang begitu tinggi untuk suatu prosedur medis terutama bagi kalangan swasta.

Masih dalam artikel yang sama, sempat pula disinggung mengenai perbedaan pengeluaran produk domestik bruto bidang kesehatan di Malaysia dan di Indonesia. Produk domestik bruto adalah jumlah nilai barang dan jasa akhir yang dihasilkan oleh seluruh unit ekonomi. Di Malaysia angka tersebut mencapai 5%, sedangkan di negara kita konsisten dibawah 2%. Anggaran kesehatan Malaysia yang jauh lebih tinggi dari Indonesia, 81 trilyun vs 46.5 trilyun di tahun 2014, juga menjadi faktor yang menghambat pengembangan sarana dan pra-sarana kesehatan di Indonesia.

Bagaimana kaitan BPJS Kesehatan dengan peningkatan fasilitas kesehatan di Indonesia? Seperti yang kita ketahui, beberapa minggu lalu, Direktur Utama BPJS Kesehatan menghadiri rapat dengan Kementerian Kesehatan dan Komisi IX DPR RI membahas tentang defisit BPJS yang kian membengkak. Diprediksi sampai dengan tahun 2018, defisit BPJS Kesehatan akan mencapai 16.5 trilyun. Suatu angka yang fantastis dan semuanya berasal dari tunggakan klaim RS dan fasilitas kesehatan lainnya yang belum dibayarkan oleh pihak BPJS Kesehatan. Dengan defisit yang begitu besar bahkan dalam hal pemenuhan pembiayaan dasar, keberadaan BPJS Kesehatan tidak banyak berpengaruh dalam pengembangan fasilitas kesehatan Indonesia.

Di era serba digital seperti sekarang, RS atau sarana kesehatan Indonesia harus lebih gencar memasarkan paket– paket kesehatan maupun fasilitas kesehatan yang tersedia di situs – situs resmi RS atau media sosial dalam meningkatkan minat masyarakat untuk berobat di negeri sendiri. Perlunya peran aktif tidak hanya dari pemerintah, namun dari semua pemangku kebijakan kesehatan di negara ini, untuk mengembangkan fasilitas kesehatan maupun kebijakan terkait kesehatan agar Indonesia tidak semakin tertinggal dibandingkan dengan negara tetangga. Bukan tidak mungkin, sistem kesehatan kita mampu bangkit dan membuat penduduknya bangga untuk berobat di negeri sendiri.

Sumber :

  1. https://www.bloomberg.com/graphics/infographics/most-efficient-health-care-around-the-world.html
  2. https://tirto.id/rumah-sakit-indonesia-kalah-jauh-dari-singapura-dan-malaysia-b8pY
  3. https://indonesiana.tempo.co/read/20462/2014/08/11/Pelayanan-Kesehatan-Indonesia-VS-Malaysia
  4. https://www.cnbcindonesia.com/market/20180914104319-17-33083/defisit-bpjs-kesehatan-nilainya-mirip-bailout-bank-century

Leave a Reply

Close Menu