Dampak Pemanasan Global dan Polusi Air: Amankah Airmu?

Spread the love

Oleh: Aldy Setiawan Putra, S.Ked.

Perubahan iklim adalah salah satu tantangan terbesar abad ini yang berdampak secara langsung pada kehidupan di muka bumi. Dampak pemanasan global yang patut di waspadai adalah mencairnya es di kutub mengakibatkan peninggian dan meningkatnya suhu permukaan air laut. Dampak ekstrem dari perubahan iklim terhadap siklus air mengakibatkan terjadinya hujan badai atau bahkan kemarau panjang di suatu wilayah tertentu. Hal ini akan berdampak terhadap akses air bersih yang aman dan terjangkau secara global.

Selain itu, pencemaran air turut ambil bagian dalam memperparah penanganan akses air bersih yang aman dan terjangkau. Kontaminasi air sungai oleh pencemaran bahan kimia seperti limbah industri atau pertambangan batu bara berdampak pada kondisi kualitas air sungai. Kondisi kualitas air yang buruk akan berdampak terhadap kesehatan masyarakat yang mengonsumsi air tersebut. Terlebih lagi, sungai juga digunakan masyarakat untuk kegiatan sehari – hari, seperti mencuci dan mandi.

“Water scarcity affects more than 40 percent of people around the world, an alarming figure that is projected to increase with the rise of global temperatures as a result of climate change. Although 2.1 billion people have gained access to improved water sanitation since 1990, dwindling supplies of safe drinking water is a major problem impacting every continent.”

  • United Nation Development Program
Gambar 1. Links between Climate Change, Water Quantity and Quality, and Human Exposure to Water-Related Illness. Sumber: U.S. Global Change Research Program

 

Berdasarkan data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun 2013, jenis sumber air untuk kebutuhan rumah tangga di Indonesia pada umumnya adalah sumur gali terlindung (29,2%), sumur pompa (24,1%), air ledeng / PDAM (19,7%). Pada rumah tangga yang menggunakan sumber air untuk seluruh keperluan rumah tangga selain air sungai / danau / irigasi, pemakaian air setiap orang per hari oleh rumah tangga di Indonesia, pada umumnya berjumlah antara 50 sampai 99,9 liter (28,3%), dan antara 100 sampai 300 liter (40%).

Gambar 2. Infografik Status Mutu Air Sungai di 33 Provinsi Tahun 2016 Sumber: Harian kompas

 

Di sisi lain, laporan yang dikeluarkan oleh Direktorat Jenderal Pengendalian Pencemaran dan Kerusakan Lingkungan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) di tahun 2016 menyebutkan hampir 68% atau mayoritas mutu air sungai di 33 provinsi di Indonesia dalam status tercemar berat.

Pencemaran dan kerusakan lingkungan yang terjadi di Indonesia sebagian besar berasal dari limbah domestik dan rumah tangga. Data Riskesdas 2013 menunjukkan bahwa yakni sebesar 12,9% rumah tangga di Indonesia yang masih tidak memiliki fasilitas BAB, sehingga masyarakat  BAB sembarangan dan langsung membuang tinja ke lingkungan (sungai dan kebun). Limbah tinja berperan dalam meningkatkan bakteri E. coli dalam air yang berpengaruh terhadap penurunan kualitas air. Di sungai-sungai kota besar seperti Jakarta, Yogyakarta di beberapa wilayah lainnya, kandungan bakteri E. coli melebihi ambang batas normal, bahkan hingga ke air sumur di pemukiman penduduk. Hal ini jelas sangat membahayakan kesehatan masyarakat, karena ketidaklayakan air untuk dikonsumsi.

Konklusi

Terjadinya perubahan iklim yang berdampak pada air, serta pencemaran lingkungan yang menyebabkan polusi air, hal ini jelas menjadi dua sisi masalah yang tidak bisa dipisahkan. Indonesia sendiri memiliki andil besar dalam hal ini sebagai negara kepulauan yang memiliki kekayaan air dunia sebesar 6% dan 21% di asia pasifik. Dengan adanya program Sustainable Development Goals (SDGs) dari United Nations (UN),  Globular Health Initiative (GHI) berharap pemerintah Indonesia mampu melakukan sebuah terobosan dalam mengintervensi isu lingkungan yang akan berdampak positif juga terhadap bidang kesehatan dalam penanggulangan akses air bersih yang aman dan terjangkau.

Sumber:

  1. Jamison DT, Breman JG, MaeshamAR, et all. Disease Control Priorities in Developing Countries. edisi ke 2. tahun 2006. Oxford University Press.
  2. Climate Impacts On Water – Related Illness. U.S. Global Change Research Program
  3. Riset Kesehatan Dasar Indonesia tahun 2013
  4. http://print.kompas.com/baca/2016/04/29/Air-Sungai-di-Indonesia-Tercemar-Berat diunduh 23 September 2017

Leave a Reply

Close Menu