Cowsumption: Is It Harmful or Useful?

Spread the love

Oleh: Ayunda Jihadillah, S.KM dan dr. Aldy Setiawan Putra

Saat ini, Bumi dihuni oleh sekitar 7 miliar penduduk. Tahun 2050, dunia diperkirakan akan mengalami peningkatan jumlah populasi hingga mencapai 9.6 miliar penduduk. Meningkatnya jumlah populasi penduduk di dunia secara besar mempengaruhi jumlah permintaan produk hewan ternak sebagai kebutuhan pangan, terutama di negara berkembang. Menurut Food and Agriculture Organization (FAO), peningkatan permintaan produk hewani tersebut mencapai 70%. Selain dipengaruhi oleh pertumbuhan jumlah penduduk, pola makan masyarakat saat ini juga menunjukkan peningkatan jumlah konsumsi pangan hewani.

Pangan hewani yang kebanyakan diperoleh dari peternakan adalah salah satu sumber protein yang dibutuhkan oleh tubuh manusia. Namun, sistem produksi pangan hewani saat ini menimbulkan dampak negatif bagi masyarakat dunia dan lingkungan hidup.

1. Kesehatan masyarakat

Sebagai dampaknya, terjadi overcrowding, yaitu lahan peternakan yang terbatas dihuni

oleh terlalu banyak hewan. Hal tersebut membuat hewan ternak lebih rentan terhadap

penyakit infeksi. Upaya peternak untuk mencegah hewan terinfeksi penyakit adalah

dengan pemberian antimikroba untuk hewan ternaknya. Sayangnya, hal tersebut memicu

timbulnya resistensi antimikroba. Mikroba pada hewan ternak menjadi kebal terhadap

beberapa jenis antimikroba. Data World Health Organization (WHO) menunjukkan tiap

tahun diperkirakan kematian akibat resistensi antimikroba sekitar 700.000 orang dan akan

diperkirakan akan menjadi 10 juta kematian di tahun 2050.

2. Kelaparan

Saat ini ada lebih dari cukup jumlah makanan yang diproduksi hari ini untuk memberi

makanan semua orang. Namun, sekitar 821 juta orang mengalami kekurangan gizi kronis,

dan kekurangan gizi mempengaruhi sekitar satu dari tiga orang di planet ini. Hal tersebut

terjadi karena proporsi bahan pangan yang digunakan untuk pakan hewan ternak rupanya

cukup besar. Padahal, jika tidak digunakan sebagai pakan ternak, jumlah makanan

tersebut cukup untuk memenuhi kebutuhan energi mereka yang menderita kelaparan.

3. Jejak penggunaan air dan polusi air

Dalam laporan Institute for Water Education yang merupakan bagian dari Institute of

Higher Education (IHE) Delft, produksi satu kilogram daging sapi membutuhkan sekitar

15 ribu liter air. Sebagian besar volume total air (98%) mengacu pada pakan untuk

hewan. Pencemaran air dari pemupukan yang berlebihan dapat merusak ekosistem

tanaman dan hewan di seluruh dunia. Nitrat di dalam air tanah bersifat karsinogenik. Di

perairan pantai, Nitrat akan menyebabkan kekurangan oksigen di dalam air dan

menyebabkan kondisi yang dikenal dengan zona mati

4. Pembukaan lahan dan deforestasi

Dengan semakin tingginya permintaan produk hewan ternak sebagai kebutuhan pangan,

hal ini memicu pembukaan lahan dan deforestasi, penggundulan hutan dilakukan demi

memperluas lahan pertanian dan peternakan.

5. Pemanasan global dan perubahan iklim

Menurut data BPS tahun 2017, sektor pertanian, kehutanan dan penggunaan lahan menjadi penyumbang terbesar emisi gas rumah kaca yang mencakup 60,44% dari total distribusi emisi gas rumah kaca di Indonesia. Sektor pertanian menghasilkan emisi gas metana (CH4) terbesar diikuti oleh sektor peternakan yang berasal dari fermentasi enterik ternak (pencernaan) dan kotoran ternak yang umumnya berasal dari golongan ternak ruminansia seperti sapi dan domba.

Pertanyaannya, apa yang harus dilakukan untuk menyelesaikan permasalahan-permasalahan di atas? Penasaran dengan jawabannya? Yuk, kita ngobrol santai bareng di Kopdar GHI, tanggal 25 November 2018 di Kollanamd, Menteng, Jakarta. Jam 13.00 – 15.00 WIB. Sampai Jumpa GHI rangers!

 

Sumber:

  1. Bulletin of WHO: Antimicrobial resistance in livestock and poor quality veterinary medicines
  2. Meat Atlas Fatcs and figures about the animals we eat
  3. BPS: Statistik Lingkungan Hidup 2017
  4. The Guardian: what is the true cost of eating meat?

Leave a Reply

Close Menu