Polemik Tarif Dokter di Indonesia

Spread the love

Oleh: dr. Jessica Gabriana

Jika seorang anak kecil ditanya tentang cita-citanya, kebanyakan mungkin menjawab menjadi dokter. Namun, ketika sudah dewasa dan mengetahui realita yang ada, menjadi dokter tidaklah seindah cita-cita masa kecil Anda. Menjadi dokter adalah sebuah profesi yang mulia namun belum sebanding dengan apa yang didapatkan. Banyak dokter yang tidak mendapatkan kesejahteraan yang layak karena gaji dokter di Indonesia tergolong kecil tapi dituntut pengabdian dengan kualitas mumpuni untuk keselamatan hidup orang lain. Apakah kedua hal ini bertentangan atau memang sewajarnya pengabdian tidak menuntut kesejahteraan diri?

Sebagai sebuah profesi yang memiliki peran yang sangat vital, untuk mendapatkan gelar dokter tentu tidak mudah. Dibutuhkan waktu yang lama dan juga biaya yang tidak sedikit untuk bisa mendapatkan gelar dokter. Ketika sudah mendapatkan gelarnya, gaji dokter yang didapatkan ternyata jauh dari kata layak terutama di Indonesia. Apalagi saat ini sudah memasuki era BPJS dimana jumlah pasien yang semakin meningkat tidak sebanding dengan take home pay (gaji pokok + tunjangan tetap + tunjangan tidak tetap) yang diterima para dokter.

Profesi dokter masih dipercaya sebagai salah satu pekerjaan yang menjanjikan masa depan cerah. Tak sedikit masyarakat yang meyakini gaji seorang dokter sangat tinggi. Banyak masyarakat yang berpikir jika gaji atau penghasilan dasar seorang dokter umum dapat berkisar Rp 12.500.000 – Rp 15.000.000 perbulan. Di sisi lain, penghasilan dokter spesialis memang jauh lebih besar, bisa mencapai 40 juta perbulan. Itu belum termasuk penghasilan dari jasa profesi (fee for service). Tentu saja nominal tersebut adalah yang diharapkan dapat terealisasi di Indonesia saat ini. Namun, data dari PayScale Indonesia mencatat, gaji rata-rata dokter di Indonesia masih tergolong rendah yaitu Rp 58 juta per tahun. Bila dihitung-hitung, gaji dokter per bulan hanya Rp 4,8 juta, bahkan untuk dokter baru hanya digaji Rp 2 juta hingga Rp 3 juta rupiah per bulan.

Kenyataan ini tentu saja sangat berbanding terbalik dengan dokter-dokter di negara lain. Bandingkan saja dengan negara lain seperti Amerika. Di Amerika, gaji dokter umum bahkan bisa mencapai 2 miliar per tahun. Sedangkan untuk dokter spesialis bisa mendapatkan gaji dengan jumlah yang lebih besar yakni 4,1 miliar rupiah per tahun. Perbandingan yang bisa dibilang cukup signifikan juga bisa dilihat di negara Cina. Dengan jumlah penduduk yang cukup besar dan gaji per kapita yang tinggi, gaji untuk dokter di Cina juga tidak jauh berbeda dengan di Indonesia. Seorang dokter di Cina bisa mendapatkan gaji sebesar 5,9 juta rupiah per bulan dan 19 juta rupiah per bulan untuk dokter yang sudah berpengalaman. Dari data-data perbandingan gaji dokter di atas, Indonesia bisa dibilang menempati posisi paling bawah dengan jumlah gaji terendah.

Pada prinsipnya, tarif dokter di Indonesia ditentukan oleh kebijakan yang dibuat oleh Ikatan Dokter Indonesia (IDI), Kementerian Kesehatan RI dan Perhimpunan Rumah Sakit (PERSI). Dalam menentukan kebijakan ini, pembayaran tarif dokter terdiri atas penghasilan jasa tetap (basic salary) dan penghasilan jasa profesi (fee for service). Penghasilan jasa tetap ini yang lebih sering dikenal dengan gaji pokok beserta tunjangan yang diberikan kepada dokter yang berkaitan dengan haknya. Sedangkan penghasilan jasa profesi merupakan tambahan penghasilan yang diperhitungkan dari kinerja atau produktivitas dokter tersebut.

 

Penghasilan dokter tidak lepas dari besarnya tarif pengobatan per pasien. Dalam penentuan tarif praktik dokter, pemilik atau pengelola rumah sakit memiliki peran strategis. Besarannya berbeda antara rumah sakit negeri dan swasta. Rumah sakit negeri alias milik pemerintah cenderung menetapkan tarif rendah untuk membayar dokter. Berbeda dengan rumah sakit swasta yang menetapkan tarif tinggi.

Perbedaannya tampak mencolok. Di rumah sakit negeri, tarif dokter hanya sekitar Rp 4.000-6.000 per pasien, sementara swasta bisa mencapai Rp 100.000-200.000 per pasien. Ini pun tidak sepenuhnya diberikan kepada dokter, rata-rata dokter hanya menerima 10-20% dari tarif dokter.

Hal ini tentunya tidak mengherankan jika saat ini lebih banyak dokter yang mengeluh mengenai kesejahteraan hidupnya daripada pengaduan masyarakat akan tingginya biaya berobat.

Memang, menjadi dokter merupakan profesi kemanusiaan, pengabdian yang menuntut ketulusan dan kemampuan yang mumpuni. Namun, bukan berarti para dokter tidak bisa mendapatkan kesejahteraan yang layak. Apalagi untuk menjadi seorang dokter juga memerlukan tenaga, waktu dan biaya ekstra. Dari sini diperlukan kebijakan pemerintah untuk memberikan solusi atas masalah ini. Sebagai sebuah profesi yang memiliki peran penting, dokter juga memerlukan dukungan untuk bisa terus berkembang dan meningkatkan kualitas diri dan keilmuannya.

 

Sumber:

  1. http://www.idionline.org/wp-content/uploads/2015/01/metode-membayar-dlp-di-era-jkn-7-okt-2013-ngs-final-1.compressed.pdf
  2. https://www.merdeka.com/khas/dilema-tarif-dokter-penghasilan-dokter.html
  3. https://www.payscale.com/research/ID/Job=Physician_%2f_Doctor%2c_General_Practice/Salary
  4. https://www.liputan6.com/health/read/2119749/perbandingan-gaji-dokter-seluruh-dunia-dan-indonesia

 

Leave a Reply

Close Menu